BI Ingin Turunkan BI Rate, Tapi….
JAKARTA, investortrust.id – Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Juda Agung mengungkapkan keinginan bank sentral untuk menurunkan BI-Rate. Namun, keputusan ini tak kunjung direalisasikan akibat trilema kebijakan atau impossible trinity.
“Impossible trinity tidak bisa tercapai semuanya. BI tugasnya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai market mechanism,” ujar Juda di acara Economic Outlook 2024 CNBC Indonesia, di Jakarta, Kamis (29/02/2024).
Baca Juga
Ini Prinsip BI dalam Menghadapi Ketidakpastian Ekonomi Global
Dengan pertimbangan lain, dia mengatakan, BI akhirnya belum bisa menurunkan suku bunga, khususnya akibat uncertainty masih tinggi. Meski demikian, BI menyadari pasar domestik memerlukan dorongan dari suku bunga. “Kita tahu itu,” ujar dia.
Saat ini, kata Juda, BI memiliki instrumen lain seperti makroprudensial untuk menjaga likuiditas perbankan tetap memadai. “Kita ada kebijakan yang namanya Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang Giro Wajib Minimum (GWM) itu 9% tapi sebenarnya sudah kita longgarkan sebesar 4%,” kata dia.
Hanya saja, terang dia, pelonggaran ini memiliki persyaratan. Pelonggaran GWM sebesar 4% diberikan, asalkan bank menyalurkan kreditnya.
Juda mengatakan, saat ini pelonggaran GWM juga masih memiliki ruang yang cukup besar. BI menyebut dari alokasi Rp 185 triliun saat ini, perbankan baru memanfaatkan insentif pelonggaran GWM sebesar Rp 160 triliun. “Sisanya Rp 25 triliun belum dimanfaatkan perbankan. Jadi masih longgar,” ujar dia.
Baca Juga
Proyeksi BI Lebih Rendah dari Pemerintah, Ekonomi 2024 Digadang-gadang Tumbuh Segini
Rapat Dewan Gubernur edisi Februari 2024, BI menyebut ketahanan perbankan tetap kuat. Likuiditas perbankan memadai. Ini tercermin dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) pada Januari 2024 yang terjaga tinggi pada 27,79%.
Ini terjadi karena pengelolaan likuiditas perbankan yang juga semakin baik, sejalan dengan tingginya penempatan perbankan pada surat berharga yang tergolong likuid. Selain itu, penguatan strategi operasi moneter yang pro-market memberikan fleksibilitas bank dalam mengelola likuiditas dan turut menjaga kapasitas pembiayaan perbankan.
