Anomali, Market Share Perbankan Syariah Indonesia Baru 8%
JAKARTA, investortrust.id – Meski menjadi negara dengan penduduk muslim terbanyak kedua di dunia, Indonesia masih tertinggal jauh dibanding negara lain dalam pengembangan perbankan syariah. Market share perbankan syariah baru 8% di Tanah Air, meski sudah meningkat sejak kehadiran PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI).
“Ada pertanyaan menarik, kalau kita melihat Indonesia penduduk muslimnya paling besar kedua dunia (tahun ini, di posisi pertama sudah Pakistan). Dengan penduduk muslim lebih dari 222 juta di Indonesia, sebetulnya agak anomali juga, kok bisa bank syariahnya nggak ada yang 'gede'?” kata Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo dalam acara media gathering di Jakarta, Jumat (12/7/2024).
Dari sisi market share, perkembangan bank syariah di Tanah Air kalah jauh dari negara tetangga. Seperti Malaysia, pangsa pasar perbankan syariah sekarang sudah 30% lebih, dan Brunei Darussalam 50%.
“Kalau di Arab Saudi itu nggak usah ditanyain. Di Middle East, di Dubai, UAE, itu juga di atas 40-50%,” paparnya.
Baca Juga
Wamen BUMN: Dividen BUMN Besar, Digabung Pajak dan PNBP Jauh Lebih Besar Lagi
Tadinya, kata Wamen yang akrab disapa Tiko ini, market share perbankan syariah di Indonesia di bawah 7%, yakni sekitar 6,5% lebih sedikit. Setelah BSI tiga tahun ini ada, lanjut dia, sudah naik lebih dari 8% atau ada sekitar 2 persen poin pertambahannya.
Kejar Kelompok Universalis
Berdasarkan survei potensi pasar perbankan syariah, Tiko menjelaskan, ada kelompok masyarakat yang spiritual level-nya tinggi. Kelompok ini tidak peduli dengan benefit atau produk.
“Ada sekitar 20% core-nya syariah orang-orang ini, apa pun yang terjadi dengan bank syariah, mereka nggak akan pindah ke bank konvensional. Karena buat mereka ini adalah belief. Kelompok lain ada yang melihat benefit,” papar Tiko.
Ada satu kelompok lagi yang lebih besar, lanjut Tiko, sekitar 26% yang dinamakan universalis. Ciri-ciri orangnya adalah well-educated, mungkin dia juga muslim, kemudian lebih demanding terhadap fitur produk, pricing, dan layanan.
“Nah, sebenarnya BSI itu yang ngejar yang 26% ini. Makanya, kami value proposition-nya menjadi bank syariah yang universal, modern, kemudian membangun digital technology capability yang lebih bagus dan branding-nya dekat ke millennial,” ucapnya.
Baca Juga
Wamen BUMN: Profitabilitas Grup BUMN Gak Kalah dengan Temasek dan Berkshire Hathaway
Untuk memperbesar market share tersebut, Kementerian BUMN tidak bisa kerja sendiri. Oleh karena itu, perlu ada bank syariah lain yang tidak kalah jauh dari BSI.
“Jadi kalau ditanya sekarang, yang di perbankan syariah itu, ranking satu siapa, BSI. Ranking dua nggak ada. Ranking tiga nggak ada. Ranking empat nggak ada. Ranking lima baru Bank Muamalat. Jadi (BSI) ‘hidup sendiri’,” ujarnya.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terlihat ada keinginan misalnya PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) akan digabung dengan Bank Muamalat. Tapi mungkin ‘ceritanya’ akan beda.
“Nah, harapannya, demand side-nya luar biasa, tapi supply-nya kurang. Hal ini mudah-mudahan ke depan dengan hadirnya BSI, dan mungkin nanti ada lagi ‘BSI’ yang lain, syariah market share-nya itu akan bisa meningkat,” ucapnya.
Industri Syariah Potensi Rp 5.000 T
Untuk mendorong ekonomi syariah di Nusantara, Kementerian BUMN baru saja mengadakan “BSI International Expo”. Pameran ini dibuka oleh Wamen Tiko bersama Wapres Ma’ruh Amin.
Dalam pameran yang diadakan di JCC ini dilakukan kurasi sekitar 272 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Penyelenggara juga membawa buyers dari 20 negara, seperti Inggris, Australia, Malaysia, dan Timur Tengah, karena expo ini adalah connecting the dots.
“Potensi halal industry value chain besar banget, Rp 5.000 triliun di Indonesia, tapi jualnya gak tahu ke mana. Jadi, akhirnya kita bawa buyers dari luar negeri,” tutur Tiko.
Expo itu, lanjut Tiko, ada 3 part. Pertama adalah exhibition, menunjukkan produk-produk atau hasil produksi para UMKM. Kemudian kedua adalah edukasi dan ada entertainment.
Yang menarik yang ketiga, yang belum ada selama ini, adalah business matching. Dalam business matching, penyelenggara expo waktu itu dibantu oleh Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, dan banyak sekali agents yang ‘mengadu’ antara produk yang dimiliki UMKM dan para pembeli dari luar negeri.
“Ada yang menarik, satu perusahaan kecil di Aceh, industri halal juga, binaan BSI, dan memproduksi sambal botol. Selama ini jualnya susah. Waktu business matching itu dibeli sama pembeli dari Malaysia 29 ton. Kaya mau pingsan dan bertanya-tanya, 'Ini gimana?',” papar Tiko.
Jadi, lanjut dia, Kementerian BUMN akan membuat ‘rumah’ untuk BSI, agar bisa membantu menyambung-nyambungkan jaringan supaya penjualan UMKM lebih banyak dan menaikkan market share ekonomi syariah. Kalau tidak dikoneksikan, maka tidak banyak pembelinya, karena pembeli banyak di luar negeri.
“Ekonomi syariah bukan cuma bank. Ini hal ekonomi ke depan, ini jadi pusat sekarang,” tandasnya. (pd)
