Anjlok! Rupiah Tembus 16.420/USD saat BI Umumkan Pertahankan Bunga Acuan
Reporter | Farhan Nugraha
Editor |
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) ditutup tembus Rp 16.420/USD pada perdagangan Kamis (20/6/2024) sore, saat Bank Indonesia (BI) mengumumkan mempertahankan suku bunga acuan 6,25%. Mata uang Garuda melemah 52 poin, dibandingkan penutupan perdagangan kemarin di Rp 16.368/USD.
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 19-20 Juni 2024, BI kembali mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 6,25%. Sedangkan suku bunga Deposit Facility naik ke posisi 5,50% dan suku bunga Lending Facility sebesar 7%.
BI mempertahankan suku bunga, antara lain, lantaran bank sentral itu memprakirakan ekonomi global tumbuh lebih tinggi dari prediksi sebelumnya, yakni mencapai 3,2% pada 2024. Hal ini terutama ditopang lebih baiknya pertumbuhan ekonomi di India dan Cina.
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi juga menyoroti sejumlah sentimen eksternal lain yang berperan terhadap pergerakan nilai tukar rupiah hari ini. "Pelaku pasar tengah menunggu lebih banyak petunjuk berkaitan dengan arah kebijakan The Fed (Bank Sentral Amerika Serikat)," kata Ibrahim dalam keterangan pada Kamis (20/6/2024).
Baca Juga
SRBI Rp 666,5 Triliun Bantu Stabilitas Rupiah, Persepsi Soal Kesinambungan Fiskal Menekan
Ia menjelaskan pula, pasar Amerika Serikat ditutup pada hari Rabu (19/6/2024) waktu setempat.
1 Kali Pemangkasan FFR
Ibrahim menegaskan, pada tingkat makro, investor masih mencari isyarat mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed, setelah pekan lalu memproyeksi hanya akan terdapat satu kali pemangkasan Fed Funds Rate hingga akhir tahun ini. "Proyeksi itu menyebabkan para pembuat kebijakan pada pekan ini bersikap lebih hati-hati," tandasnya.
Ibrahim menegaskan, pada tingkat makro, investor masih mencari isyarat mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed, setelah pekan lalu memproyeksi hanya akan terdapat satu kali pemangkasan Fed Funds Rate hingga akhir tahun ini. "Proyeksi itu menyebabkan para pembuat kebijakan pada pekan ini bersikap lebih hati-hati," tandasnya.
Di sisi lain, Bank of England (BoE) akan melakukan pertemuan, di mana suku bunga diperkirakan tidak berubah. Selain BoE, investor juga akan mengamati keputusan bank sentral Swiss dan Norwegia pada hari Kamis waktu setempat untuk menentukan prospek suku bunga global.
"Sementara itu, data pada Rabu menunjukkan inflasi Inggris pada Mei kembali ke target 2% untuk pertama kalinya, dalam hampir tiga tahun terakhir. Namun, tekanan harga yang kuat mengesampingkan penurunan suku bunga menjelang pemilu bulan depan. Pasar telah memperkirakan pelonggaran BoE sebesar 43 basis poin tahun ini," sambung Ibrahim.
Kemudian, Bank Nasional Swiss diperkirakan akan menurunkan suku bunga kebijakan utamanya sebesar 25 basis poin untuk pertemuan kedua berturut-turut. Sedangkan Bank sentral Norwegia kemungkinan tidak akan mengubah suku bunga kebijakan utamanya.
