Bertambah, Asing Net Sell Saham Rp 1,77 Triliun dan di SBN Rp 2,1 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – Dana asing masih mengalir keluar dari pasar saham domestik dan Surat Berharga Negara. Pada Selasa (2/4/2024), nonresiden mencatatkan net sell Rp 1,7 triliun di Bursa Efek Indonesia, bertambah dari penjualan bersih Rp 1,52 triliun kemarin.
Memasuki April ini, asing sudah mencatatkan penjualan bersih saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) senilai Rp 3,29 triliun, dalam dua hari perdagangan. “Sedangkan secara year to date, asing masih mencatatkan net buy saham Rp 22,99 triliun,” papar BEI dalam keterangan di Jakarta pada Selasa (2/4/2024) sore.
Baca Juga
Sementara itu, di pasar Surat Berharga Negara (SBN) rupiah yang dapat diperdagangkan, data terbaru yang dirilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) adalah transaksi kemarin. Berbalik arah dengan hari sebelumnya, nonresiden di pasar SBN melakukan jual neto Rp 2,1 triliun. Secara year to date, asing mencatatkan penjualan bersih hingga kemarin Rp 33,44 triliun.
Optimistis Tak Tembus Rp 16.000/USD
Baca Juga
Net Sell Berlanjut Rp 1,76 Triliun, Empat Saham Bank Papan Atas Ini Dilego Asing
"Aktivitas manufaktur Indonesia terus melanjutkan tren ekspansif dalam 31 bulan berturut-turut. Impresifnya kinerja manufaktur tersebut didorong oleh tingkat permintaan dalam negeri dan pembelian barang input, untuk memacu aktivitas produksi sebelum Idulfitri. Secara keseluruhan, sentimen pada sektor manufaktur Indonesia pada Maret 2024 tetap positif, di tengah harapan akan kondisi pasar yang lebih kuat dan stabilitas harga yang lebih baik," kata Febrio dalam keterangan di Jakarta, Selasa (2/4/2024).
“Jika dibandingkan beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam, yang mengalami kontraksi, kinerja manufaktur Indonesia yang masih ekspansif menunjukkan resiliensi ekonomi nasional, di tengah peningkatan risiko global. Capaian ini akan terus kami jaga melalui berbagai dukungan kebijakan, untuk menjaga stabilitas ekonomi dan antisipasi terhadap risiko global,” ujar Febrio.
Febrio juga menggarisbawahi bahwa inflasi RI di bulan Maret 2024 tercatat masih terkendali sebesar 3,05% (yoy). Inflasi ini dipengaruhi oleh kenaikan harga sebagian besar komoditas pangan pada masa Ramadan. Secara historis, pada masa Ramadan dan Idul Fitri terjadi peningkatan permintaan musiman yang menyebabkan terjadinya kenaikan harga.
"Namun demikian, masih terus berlanjutnya kenaikan harga pangan menjadi hal yang terus diwaspadai oleh pemerintah. Inflasi pangan bergejolak (volatile food) bergerak meningkat menjadi 10,33% (yoy), dari 8,47% (yoy) pada Februari 2024. Peningkatan ini didorong oleh naiknya harga komoditas, seperti beras, daging dan telur ayam ras, cabai merah, serta bawang putih. Di tengah produksi pangan yang terkendala dan mundurnya panen raya, pemerintah terus mengupayakan stabilisasi pasokan dan harga untuk menjamin akses pangan masyarakat," tandasnya.
“Pemerintah akan terus berupaya memitigasi risiko gejolak pada masa Ramadan dan Idulfitri, terutama dalam mengendalikan harga pangan dan tarif transportasi. Stabilisasi pasokan terus dilakukan untuk menjaga kecukupan stok domestik dan keterjangkauan harga, antara lain melalui operasi pasar dan pasar murah, percepatan pengadaan impor, relaksasi Harga Eceran Tertinggi (HET) beras dan penyaluran beras SPHP, serta melakukan koordinasi pengendalian inflasi HBKN di seluruh daerah. Inflasi diharapkan dapat melandai, seiring koreksi harga pasca HBKN dan dukungan kebijakan stabilisasi harga pangan yang terus konsisten dilakukan oleh pemerintah,” tutur Febrio.
