Ada ‘Pertempuran Lengkong’ dalam Pidato Prabowo di GBK
JAKARTA, investortrust.id – Pidato akbar Prabowo Subianto dalam kampanye terakhir capres/cawapres di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, Sabtu (10/2/2024) siang menyisakan sekelumit kisah heroisme tentang Pertempuran Lengkong.
Saat menutup pidatonya,dengan suara bergetar, Prabowo berujar, “Saya sekarang mau menutup pidato saya dengan mengutip tulisan yang ditinggalkan seorang pemuda umur 21 tahun yang gugur dalam pertempuran di Tangerang tahun ‘46. Di dalam sakunya ditemukan secarik kertas dengan tulisan sebagai berikut.”
Lantang, capres nomor urut 2 yang terus dielu-elukan para pendukungnya itu membacakan bait demi puisi peninggalan seorang pemuda berusia 21 tahun yang disebutnya gugur sebagai kusuma bangsa dalam pertempuran melawan penjajah di Tangerang, 78 tahun silam.
Baca Juga
Prabowo Bacakan Puisi Heroik Seorang Pahlawan dalam Pidato Akbar di GBK, Siapakah Dia?
"Kita tidak sendirian, rakyat beribu-ribu orang, bergantung kepada kita. Rakyat yang tak pernah kita lihat, rakyat yang mungkin tak akan pernah lihat kita. Tetapi apa yang kita lakukan akan menentukan apa yang terjadi kepada mereka. Dan, saya tambahkan, apa yang terjadi kepada mereka, kepada anak-anak mereka, dan kepada cucu-cucu mereka,” kata Prabowo, dengan penuh khidmat.
Pahlawan muda yang disebut Prabowo adalah Letnan Satu (Lettu)TNI Soebianto Djojohadikoesoemo, yang tak lainmerupakan paman Prabowo Subianto alias adik ayah kandung Prabowo, Soemitro Djojohadikoesoemo.
Adapun pertempuran yang merenggut nyawa para pejuang tersebut adalahPertempuran Lengkong, yaitupertempuran Tentara Keamanan Rakyat (TKR) melawan pasukan Jepang di Desa Lengkong, Serpong, Tangerang Selatan, Banten pada 25 Januari 1946.
Pertempuran Lengkong, berdasarkan catatan Wikipedia, melibatkanpara tentara Resimen IV TRI di Tangerang yang mengelola Akademi Militer Tangerang.
Alkisah, pada 25 Januari 1946, Mayor Daan Mogot memimpin puluhan taruna akademi untuk mendatangi markas Jepang di Desa Lengkong. Mereka hendakmelucuti senjata pasukan Jepang. Daan Mogot didampingi sejumlah perwira, antara lain Mayor Wibowo, Lettu Soetopo, dan Lettu Soebianto Djojohadikoesoemo.
Mereka berangkat ke Lengkong mengendarai tiga truk dan satu jip militer. Di depan pintu gerbang markas Dai Nippon, beberapa serdadu Jepang mengadang mereka. Dari sekian banyak TNI, hanya tiga orang yang diizinkan masuk, yaitu Mayor Daan Mogot, Mayor Wibowo, dan seorang taruna. Sedangkan Lettu Soebianto dan Lettu Soetopo bertugas memimpin para taruna yang menungggu di luar.
33 Taruna dan Tiga Perwira Gugur
Proses pelucutan senjata para tantara Jepang awalnya berjalan lancar. Namun, sekonyong-konyongterdengar suara senapan menyalak, diikuti rentetan mitraliur, saling bersahutan. Senja yang semula senyap itu pun serta-merta menjadi tragedi berdarah.
Sebagian tentara Jepang merebut kembali senjata mereka yang semula diserahkan. Pertempuran yang tak seimbang pun meletus. Karena kalah jumlah dan kalah senjata, korban berjatuhan di pihak Indonesia.
Baca Juga
Sebanyak 33 taruna dan tiga perwira gugur dalam peristiwa heroik itu. Satu taruna lainnya meninggal setelah sempat dirawat di rumah sakit. Perwira yang gugur adalah Daan Mogot, Letnan Soebianto, dan Letnan Soetopo. Peristiwa berdarah itu kemudian dikenal dengan nama Pertempuran Lengkong.
Untuk mengenang Peristiwa Lengkong, pemerintah membangun dua tempat bersejarah, yaitu Taman Makam Pahlawan (TMP) Taruna di Jl Daan Mogot (JalanRaya Jakarta-Serang) KM 24,5 dan Monumen Lengkong di wilayah Serpong.
Monumen Lengkong yang berdampingan dengan Taman Daan Mogot, dibangun pada 1993 di atas lahan seluas 500 m2. Pada dinding prasasti monumen terukir nama-nama taruna dan perwira yang gugur dalam Pertempuran Lengkong. Adapun di dalam museumnya terpampang foto-foto perjuangan para taruna militer Indonesia beserta akademinya.
Pertempuran Lengkong diperingati setiap 25 Januari. Peristiwa kepahlawanan itu sejak7 Januari 2005 ditetapkan sebagai Hari Bakti Taruna Akademi Militer.
