1,2 Juta Nasabah Mikro PNM Berhasil Naik Kelas
JAKARTA, investortrust.id – Sekitar 1,2 juta dari 15,2 juta nasabah mikro dan ultramikro PT Permodalan Nasional Madani (PNM) telah naik kelas tahun lalu. Mereka kini sudah memanfaatkan kredit perbankan, termasuk kredit dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk selaku induk perusahaan.
Direktur Utama PNM Arief Mulyadi menyatakan, menghantarkan nasabah PNM agar menjadi bankable (layak mendapat kredit bank) termasuk menjadi salah satu misi PNM. “Tahun lalu, sudah ada 1,2 juta nasabah PNM yang naik kelas, untuk dilayani kredit BRI atau dari Pegadaian. Ada yang mendapat Kupedes atau KUR (Kredit Usaha Rakyat),” tutur Arief di sela acara “Live on Ramadan PNM” di Jakarta, Kamis malam (21/3/2024).
Direktur Operasional, Digital dan Teknologi Informasi PNM, Sunar Basuki menambahkan, tahun ini PNM menargetkan 1,5 juta nasabah mikro dan ultramikro berhasil naik kelas. Mereka yang naik kelas selama ini menjadi nasabah Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera). PNM Mekaar merupakan layanan pembiayaan berbasis kelompok mikro dan ultra mikro (umi) bagi perempuan prasejahtera.
Arief Mulyadi menjelaskan, PNM kini memiliki 15,2 juta nasabah aktif. Secara akumulatif, jumlah nasabah PNM sejak 2016 hingga Februari 2016 tercatat sebanyak 20,1 juta. “Berkurangnya” jumlah nasabah, antara lain disebabkan sebagian dari mereka telah naik kelas dan berpindah menjadi nasabah perbankan. Banyak juga yang meninggal saat pandemi Covid 2020-2021.
Beberapa waktu lalu, Menteri BUMN Erick Thohir minta nasabah PNM ditingkatkan menjadi 20 juta. Tahun ini, PNM memperkirakan jumlah nasabah bisa melampaui 16 juta.
Selama dua bulan, Januari-Februari 2024, lanjut Arief, PNM telah mengucurkan pembiayaan sebesar Rp 12,5 triliun. Tahun ini, perseroan membidik pembiayaan nasabah Mekaar senilai Rp 75 triliun, yang dituangkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) PNM tahun 2024.
"Target dalam RKAP tahun ini sebesar Rp 75 triliun. Insya Allah tercapai," tutur Arief.
Ada sejumlah strategi yang disiapkan PNM untuk mengejar target tersebut. Di antaranya adalah penyesuaian (adjustment) proses bisnis, penyesuaian pemberdayaan, dan juga perbaikan dalam pendampingan nasabah.
Arief mengakui bahwa masih banyak perempuan prasejahtera yang perlu mendapat bantuan pembiayaan PNM, yang selama ini juga belum terdata. Selain itu, PNM juga berusaha mengedukasi para calon nasabah prasejahtera, yang selama ini terbelenggu oleh kemiskinan turun-temurun.
“Banyak dari mereka yang bermimpi pun tidak berani untuk lepas dari kemiskinan. Mereka merasa bahwa nenek moyangnya, kakek nenek buyutnya miskin, sehingga tidak mungkin lepas dari kemiskinan. Belenggu pikiran itulah yang kita dobrak, kita edukasi. Dan mereka berhasil bangkit,” tegas Arief.
Saat ini terdapat sekitar 45 juta nasabah ultra mikro (Umi) yang bernaung di bawah Holding Ultra Mikro (UMi), yang terdiri atas BRI, PNM, dan Pegadaian. Hingga akhir Desember 2023, pembiayaan yang tersalur ke ultra mikro mencapai sekitar Rp 612 triliun.
Sebagai bagian dari strategi ekspansi dan perluasan nasabah, PNM akan menjangkau masyarakat prasejahtera di wilayah 3 T (tertinggal, terluar, terdepan). Beberapa yang disasar TNM tahun ini antara lain masyarakat di Pulau Miangas, Sulawesi Utara dan Papua yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini.
“Targetnya terealisasi pada kuartal kedua ini. Pak Presiden kan sudah berpesan agar PNM memperluas ke daerah-daerah 3T," ucap Arief.
Berbicara tentang rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF), Arief menyebut bahwa PNM berhasil menekan NPF gross di level 0,7%. Padahal, handling cost untuk bisnis pembiayaan Mekaar sangat tinggi. “Kami tetap akan menjadi NPF di bawah 1%,” tegasnya.
Untuk menjaga agar NPF tetap rendah, PNM akan terus memperhatikan prinsip Governance Risk and Compliance (GRC) atau prinsip tata kelola, risiko, dan kepatuhan.
Baca Juga
Nasabah Sukses
Dalam acara Live on Ramadan tadi malam, dihadirkan sejumlah nasabah PNM yang sukses dengan bisnis mereka. Sebagian produk mereka bahkan menembus pasar ekspor di beberapa negara.
Di antaranya adalah Deasy Andriani, pemilik DS Yoghurtku. Produk yoghurtnya telah menembus pasar seperti London, Swiss, Jepang, Italy, hingga Amerika Serikat.
“Ketika akan memulai usaha, jangan cepat menyerah kalau misalnya ditakut-takuti orang dengan kalimat macam-macam. Misalnya, ketika saya mau bikin yoghurt, ada yang bilang bahwa yoghurt dimana-mana rasanya cuma begitu. Tapi produk saya berbeda. Dan kami terima kasih kepada PNM yang telah memberikan bantuan pembiayaan dan pendampingan,” kata Deasy.
Nasabah sukses lain yang tadi malam bikin heboh dan segar suasana adalah Mak Edah. Perempuan mantan ketua RT dan pegiat sosial ini berhasil memproduksi ‘kerupuk miskin’ yang disukai konsumen dan laris manis. Kemudian juga nasabah yang sukses dalam produk basreng dengan kemasan eksklusif dan telah menembus berbagai negara.
PNM didirikan oleh BJ Habibie pada 1999, saat menjabat sebagai presiden. PNM memberikan pembiayaan, pembinaan dan pendampingan bagi masyarakar prasejahtera dengan misi meningkatkan inklusi dan literasi keuangan, sekaligus meghantar nasabah umi dan mikro naik kelas.
BJ Habibie sebagai pendiri memberikan tiga pesan saat pendirian, yakni PNM harus memberikan modal finansial, modal intelektual, dan modal sosial.
Baca Juga
PNM Terima Rp 1 Triliun dari DBS Indonesia untuk Kembangkan Mekaar
