Badan Geologi Ingatkan Ancaman Longsor Susulan di Cisarua Bandung Barat
JAKARTA, investortrust.id - Bencana gerakan tanah berupa longsor terjadi di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Jumat (24/1/2026). Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi longsor susulan, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan bahwa longsor dipicu oleh curah hujan tinggi yang terjadi sebelum dan saat kejadian.
"Faktor pemicu utama adalah curah hujan tinggi yang terjadi sebelum dan saat kejadian, yang menyebabkan peningkatan tekanan air pori, penurunan kuat geser tanah, dan terjadinya kegagalan lereng," ujar Lana, Senin (26/1/2026).
Baca Juga
Update Longsor Bandung Barat: 17 Meninggal Dunia, 11 Jenazah Teridentifikasi
Selain faktor hujan, gerakan tanah di Desa Pasirlangu juga dipengaruhi kondisi geologi setempat yang didominasi batuan gunungapi tua yang telah lapuk, kemiringan lereng yang curam, serta keberadaan rekahan dan sesar geologi.
Berdasarkan peta zona kerentanan gerakan tanah (ZKGT), wilayah terdampak termasuk zona kerentanan gerakan tanah menengah. Pada zona ini, gerakan tanah berpotensi terjadi terutama pada lereng yang telah mengalami gangguan, baik secara alami maupun akibat aktivitas manusia, khususnya saat hujan deras berlangsung lama.
Aktivitas pemotongan lereng untuk permukiman dan akses jalan, serta sistem drainase permukaan yang belum optimal, turut memperbesar risiko longsor dan menurunkan kestabilan lereng di kawasan perbukitan tersebut.
"Peristiwa ini menunjukkan keterkaitan kuat antara kondisi morfologi curam, batuan vulkanik lapuk, struktur geologi, serta pengaruh curah hujan tinggi terhadap terjadinya longsor berskala luas," jelas dia.
Pascakejadian, Badan Geologi memberangkatkan tim tanggap darurat (TTD) ke lokasi bencana. Tim telah melakukan pemeriksaan lapangan untuk mengetahui penyebab gerakan tanah serta menyiapkan rekomendasi teknis penanganan di area terdampak seluas kurang lebih 30 hektare.
"Tim tanggap darurat Badan Geologi saat ini sudah berada dilokasi terjadinya gerakan tanah berupa tanah longsor di Kabupaten Bogor. Tim akan melakukan pemeriksaan di lokasi bencana untuk mengetahui penyebab terjadinya bencana," ujar Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Hadi Wijaya.
Wilayah terdampak merupakan daerah perbukitan dengan kepadatan permukiman dan aktivitas pemanfaatan lahan yang cukup tinggi. Badan Geologi meminta warga di sekitar lokasi longsor untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Masyarakat yang tinggal di dekat lereng curam diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama saat dan setelah hujan deras, mengingat potensi terjadinya gerakan tanah susulan masih tinggi.
Korban meninggal dunia akibat longsor di Bandung Barat mencapai 17 orang. Tim Disaster Victim Identification (DVI) berhasil mengindentifikasi 11 jenazah dan 6 lainnya masih dalam proses identifikasi.
Baca Juga
KRL Lintas Tanah Abang–Rangkasbitung Kembali Normal dengan Kecepatan Terbatas Seusai Longsor
Tim SAR gabungan kemarin Minggu (25/1) telah berhasil menyerahkan total 25 kantong jenazah. Jumlah ini sudah termasuk dari 11 jenazah yang berhasil teridentifikasi serta 6 yang masih proses identifikasi.
Hasil operasi pencarian Tim SAR gabungan selanjutnya diproses oleh tim DVI untuk identifikasi. Proses identifikasi dapat dilakukan lebih cepat apabila kondisi jenazah dalam keadaan utuh dan memiliki identitas pendukung. Namun, untuk jenazah berupa potongan tubuh tertentu, diperlukan waktu lebih lama untuk proses pencocokan data ante mortem.
Hingga kini, proses identifikasi terhadap kantong jenazah yang sudah diserahkan ke tim DVI terus berjalan. Pagi ini Senin (26/1) proses pencarian kembali dilanjutkan dengan fokus titik pencarian yang sebelumnya sudah dipetakan melalui gambar yang diolah melalui drone.

