RI Jajaki Jet Tempur JF-17 dari Pakistan, Kemenhan: Belum Ada Komitmen Pembelian
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah Indonesia menyebut masih dalam tahap awal penjajakan terkait potensi kerja sama pertahanan dengan Pakistan, termasuk kemungkinan pengadaan jet tempur JF-17 Thunder. Kementerian Pertahanan (Kemenhan) menegaskan belum ada keputusan maupun komitmen pembelian dalam pembahasan tersebut.
Isu ketertarikan Indonesia terhadap jet tempur JF-17 mencuat setelah laporan Reuters menyebut adanya pertemuan antara Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin dan Kepala Staf Angkatan Udara Pakistan, Marsekal Udara Zaheer Ahmed Baber Sidhu, di Islamabad. Pertemuan itu disebut membahas peluang kerja sama pertahanan, termasuk penjualan pesawat tempur dan drone bersenjata.
Laporan Reuters menyatakan diskusi mencakup JF-17, pesawat tempur multirole hasil pengembangan bersama Pakistan dan China. Selain itu, Indonesia juga disebut tertarik pada drone pengintai dan serang buatan Pakistan, termasuk Shahpar UAV.
Dua sumber lainnya menyebutkan pembicaraan telah berada pada tahap lanjutan dan mencakup kemungkinan pengadaan lebih dari 40 unit JF-17. Namun, belum ada informasi resmi terkait jadwal pengiriman maupun jangka waktu kontrak yang dibahas dalam pertemuan tersebut.
Menanggapi laporan tersebut, Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Setjen Kemenhan Brigadir Jenderal TNI Rico Ricardo Sirait menegaskan bahwa pembahasan masih bersifat umum.
“Yang dibahas dalam pertemuan (Menhan) di Pakistan adalah dialog kerja sama pertahanan secara umum dan masih pada tahap penjajakan," ujarnya kepada investortrust.id, Rabu (14/1/2026).
Ia juga menegaskan bahwa saat ini belum ada keputusan final terkait pemberitaan tersebut. "Belum ada pembahasan yang mengarah pada keputusan atau komitmen pembelian, dan belum ada hal yang bersifat mengikat,” sambungnya.
Baca Juga
Sementara itu, minat global terhadap jet tempur JF-17 dinilai terus meningkat. Kepala Editor majalah Aerospace Knowledge yang berbasis di Beijing, Wang Ya’nan, menyebut JF-17 memiliki daya saing tinggi di pasar internasional.
Menurut Wang, ketertarikan terhadap alutsista hasil kerja sama China–Pakistan juga dipengaruhi pengalaman tempur nyata. “Benturan udara Pakistan dan India pada Mei 2025 menunjukkan kapabilitas senjata tersebut dalam kondisi pertempuran sesungguhnya,” katanya.
Selain JF-17, Indonesia juga disebut mempertimbangkan opsi lain dari China. Pada Oktober 2025, Kemenhan dilaporkan menyampaikan minat terhadap jet tempur J-10.
Menanggapi hal tersebut, Juru Bicara Kementerian Pertahanan China Zhang Xiaogang menegaskan sikap hati-hati Beijing dalam ekspor alutsista. “Kami bersedia berbagi pencapaian terbaru modernisasi peralatan dengan negara-negara yang mencintai perdamaian, serta bersama-sama menjaga stabilitas kawasan dan global,” tegasnya.

