Jaringan Pengusaha Nasional: Munaslub Kadin Hasil Sebuah Proses Panjang
JAKARTA, Investortrust.id – Munas Luar Biasa Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia yang digelar pada 14 September 2024 lalu dinilai sebagai puncak dari sebuah proses yang cukup panjang. Selama beberapa bulan terakhir sejumlah pengusaha anggota Kadin dan asosiasi-asosiasi pemilik hak pilih sebagai anggota luar biasa (ALB) menginginkan agar organisasi para pengusaha ini bisa selaras dengan program-program yang dijalankan oleh pemerintah.
“Jadi sebenarnya ini adalah puncak dari sebuah proses yang cukup panjang. Saya secara pribadi mengikuti, dan berkomunikasi dengan banyak teman-teman sejak bulan Juli (yang merasa kadin telah jauh dari pemerintah, red),” demikian disampaikan Ketua Harian Jaringan Pengusaha Nasional Widiyanto Saputro kepada Investortrust.id, di Jakarta, Kamis (19/9/2024).
Dikatakan Widiyanto yang merupakan salah satu peserta penuh Kadin dan pemegang voting rights yang juga pengusul digelarnya Munaslub Kadin 2024 ini, sejak akhir tahun 2023 di sudah mulai muncul suara keprihatinan tentang posisi Kadin yang dinilai telah jauh dari pemerintah.
Baca Juga
Erwin Aksa: Kadin Akan Rangkul Semua Pelaku Industri untuk Tetapkan Strategi Membangun Ekonomi RI
Pada periode yang berbarengan dengan ramainya aktivitas kampanye untuk pilpres, sejumlah pengurus Kadin di daerah mulai merasa tak lagi diajak berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Jika pun para pengurus Kadin daerah menggelar hajat terkait upaya peningkatan kapasitas industri lokal, pemerintah daerah seringkali memilih untuk tidak hadir di acara mereka.
“Jadi pada saat itu sedang aktif kampanye Pilpres, beberapa Kadin di daerah ini mulai menyampaikan, kok pemerintah provinsi kalau bikin acara kita sekarang enggak diundang. Kemudian (kalau) kami bikin acara pemprov-nya enggak mau datang. Kenapa? Karena mereka enggak berani,” ujar Widiyanto.
Pasalnya, lanjut Widiyanto, di tengah periode tersebut para pejabat pemprov selaku aparatur sipil negara (ASN) memang dilarang untuk menunjukkan identitas politik mereka, dan harus tetap netral. Sementara itu sejumlah pengurus Kadin diketahui telah menyatakan keberpihakannya kepada salah satu pasangan calon presiden kala itu. “Mereka waspada, Kadin ini kan sekarang memihak. Persepsinya begitu,” imbuhnya.
Ia pun mulai merasakan bahwa hubungan antara Kadin yang seharusnya menjadi mitra pemerintah dalam pengembangan perekonomian menjadi canggung. Keprihatinan ini terus berlanjut, hingga pada Juli 2024 mulai mengkristal sikap-sikap yang menginginkan perubahan di tubuh Kadin, yang akhirnya direalisasikan lewat digelarnya Munas Luar Biasa Kadin pada pertengahan September 2024.
Baca Juga
Pemilihan Ketua Umum Kadin Anindya Bakrie Sah Secara Prosedural dan Penuhi Kuorum
Ditambah lagi, ujar Widiyanto, Kadin saat itu tampak lebih pasif dalam menyuarakan kepentingan industri. “Misalnya pada saat ada masalah dengan Permendag Nomor 36, Kadin tidak ada suaranya. Begitu banyak asosiasi mencoba menyampaikan, (Permendag 36) ini bermasalah nih. Akhirnya yang mengambil mengambil inisiatif justru Apindo (Asosiasi pengusaha Indonesia), papar Widiyanto.
Begitupun ketika harga gas menjadi concern bagi para pelaku usaha keramik nasional, Kadin disebutnya hanmpir tidak mengambil peran untuk melakukan mediasi dengan pemerintah. Akibatnya justru asosiasi-asosiasi yang akhirnya mengambil langkah sendiri-sendiri, dalam menyikapi sejumlah tantangan yang dihadapi. Salah satunya berusaha berkomunikasi langsung dengan dewan pakar pemerintah.
“Teman-teman asosiasi akhirnya berkumpul, dan menganggap kita gak akan bisa terbantu jika tidak satu frekuensi dengan pemerintah, ini berbahaya,” tuturnya lagi.
Bisa ditebak, cerita berikutnya adalah menguatnya permintaan untuk digelarnya Munaslub Kadin, yang akhirnya digelar pada 14 September 2024, yang memutuskan memilih Anindya Novyan Bakrie sebagai ketua umum.
Baca Juga
Menperin Ajak Ketum Kadin Anindya Bakrie Kerja Sama Bangun Industri 5 Tahun ke Depan
Widayanto yang mengaku telah berperan sebagai pihak penghubung antara anggota Kadin serta asosiasi menggambarkan, kristalisasi di tubuh Kadin sampai pada titik bahwa jika Kadin tidak bisa satu frekuensi dengan pemerintah, maka Kadin akan tertinggal dalam banyak hal.
“Kadin tidak akan bisa berkontribusi dengan baik, maka dari situ desakan dari anggota luar biasa, desakan dari Kadinda akhirnya disampaikan, sampailah akhirnya pada pengumuman Munaslub kemarin,” tandas Widiyanto.

