Profil Bahlil Lahadalia, Aktivis dan Pengusaha yang Jadi Kandidat Ketum Golkar
JAKARTA, investortrust.id - DPP Partai Golkar akan memutuskan pelaksana tugas (Plt) ketua umum melalui rapat pleno Selasa (13/8/2024) malam. Terdapat sejumlah nama menggantikan Airlangga Hartarto yang mengundurkan diri.
Salah satu nama yang masuk bursa Plt Ketua Umum Partai Golkar adalah Menteri Investasi/ Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia.
Bagaimana profil Bahlil Lahadalia?
Bahlil yang lahir pada 7 Agustus 1976 memiliki rekam jejak yang lengkap sebagai aktivis dan pengusaha. Dikutip dari berbagai sumber, Bahlil mengenyam pendidikan SD dan SMP di Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara. Bahlil melanjutkan pendidikannya di Fakfak Papua Barat.
Baca Juga
Idrus Marham Sebut Bahlil Lahadalia Penuhi Syarat Jadi Ketum Golkar
Sejak masa remaja, Bahlil telah mulai berbisnis dengan menjadi penjual kue, kondektur, dan menjadi sopir angkot. Pergulatannya dalam dunia aktivis dimulai saat menjadi mahasiswa di Sekolah Tinggi Ekonomi, Port Numbay, Jayapura, Papua. Saat itu, Bahlil bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan sempat menjadi bendahara umum di organisasi mahasiswa yang banyak melahirkan tokoh nasional tersebut.
Sempat bekerja di perusahan BUMN Sucofindo, Bahlil bersama sejumlah rekannya memutuskan untuk mendirikan tiga perusahaan, yakni PT Rifa Capital, PT Bersama Papua Unggul, dan PT Dwijati Sukses. Melihat begitu banyaknya sumber daya alam yang melimpah di tanah Papua, Bahlil Lahadalia membuka peluang untuk membuka usaha. Kini ia memiliki 10 perusahaan di berbagai bidang di bawah bendera PT Rifa Capital sebagai perusahaan induk.
Rekam jejaknya sebagai aktivis dan pengusaha makin lengkap dengan menjadi ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) periode 2015-2019. Bahlil juga memimpin delegasi perdagangan bagi pengusaha muda ke Jepang pada 2016 dan ke Eropa pada 2018 (HIPMI-Europe Trade Mission 2018).
Baca Juga
Pada Pilpres 2019, Bahlil bergabung dalam tim kampanye nasional Jokowi-Ma'ruf dan menduduki posisi sebagai direktur penggalangan pemilih muda.
Banyak pihak yang menuding Bahlil tidak layak menjadi ketua umum Partai Golkar karena belum pernah menjabat di struktur partai. Namun, hal itu terbantahkan. Bahlil diketahui pernah menjabat sebagai wakil sekretaris Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Papua dan Bendahara DPD Golkar Papua.

