Laba Bakal Bertumbuh Pesat, Saham Merdeka Battery (MBMA) Direvisi Naik!
JAKARTA, investortrust.id – PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) diprediksi catatkan akselerasi pertumbuhan laba, seiring meningkatnya monetisasi bisnis hilir dan eksekusi strategi downstream di rantai nilai nikel.
Akselerasi ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik target harga saham MBMA menjadi Rp 940, dibandingkan prediksi semula Rp 490. Target harga tersebut mempertimbangkan lomptan laba bersih tahun ini menjadi US$ 176 juta, dibandingkan perkiraan tahun lalu US$ 37 juta.
Revisi naik target harga saham tersebut juga mempertimbangkan dinaikkannya prediksi kinerja keuangan MBMA. BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik target laba bersih tahun ini dari semula US$ 75 menjadi US$ 176 juta dan revisi naik target laba tahun 2027 dari semula US$ 259 juta menjadi US$ 379 juta.
Baca Juga
Laba Merdeka Battery (MBMA) Kuartal III Naik 37% Meski Pendapatan Melorot
Analis BRI Danareksa Sekuritas Naura Reyhan Muclis dan Andhika Audrey mengatakan, revisi naik target kinerja keuangan tahun 2026-2027 didorong oleh prediksi kenaikan volume high grade nickel matte (HGNM) serta asumsi harga nikel yang lebih kuat.
Dalam diskusi terbaru dengan manajemen MBMA, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, perseroan tengah menunggu persetujuan resmi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Meski demikian, manajemen tetap optimistis kebutuhan bijih untuk operasi hilir sekitar 23 juta wet metric ton (wmt) dapat terpenuhi. Volume tersebut terdiri atas sekitar 7–8 juta wmt saprolite dan 10–15 juta wmt limonite.
Pada 2026, fokus utama perusahaan diarahkan pada stabilisasi arus kas, terutama di tengah rencana perombakan 1–2 lini Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF). Kondisi ini diperkirakan menyebabkan pola musiman yang lebih lemah pada semester I-2026, sebelum produksi dan kinerja laba kembali menguat pada semester II-2026.
Baca Juga
MDKA-EMAS dan ANTM Teken Kontrak Penjualan Emas 3 Ton per Tahun, Perkuat Rantai Pasok Emas Nasional
Manajemen juga menyampaikan bahwa operasi HGNM telah kembali berjalan dengan struktur kontrak yang lebih menguntungkan. Tingkat payability meningkat menjadi sekitar 90% dari harga London Metal Exchange (LME), dibandingkan sebelumnya sekitar 88%. Hal ini bisa mengerek naik margin keuntungan perseroan.
Sedangkan dari sisi hulu, mulai 1 Januari 2026 limonite dijual menggunakan mekanisme harga pasar sekitar US$ 20 per wmt dengan kadar 1,15%. Skema ini diperkirakan menghasilkan margin sekitar US$ 10–11 per wmt. Sisi hilir, MBMA berencana mengonsolidasikan proyek PT ESG New Energy Material (ESG) mulai kuartal III-2026 dan PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) pada semester II-2026.
Baca Juga
IHSG Bisa Rebound Teknikal, Tiga Saham Dipimpin HRTA Layak Dilirik
Terkait kebutuhan pendanaan, BRI Danareksa Sekuritas, anak usaha PT Merdeka Gold Resources Tbk (MDKA) ini sekitar US$ 100 juta untuk ESG dan US$ 300 juta untuk SLNC yang bersumber dari kas internal. “Langkah tersebut dinilai memperkuat strategi perusahaan dalam meningkatkan integrasi vertikal, memperkuat ketahanan margin, serta mempercepat monetisasi bisnis hilir dalam rantai nilai nikel,” tulisnya.
BRI Danareksa Sekuritas menambahkan dengan asumsi harga nikel sebesar US$ 17.500 per ton pada 2026 serta peningkatan volume HGNM menjadi 50.000 ton nikel ditambah dengan kontribusi High Pressure Acid Leach (HPAL) yang lebih optimal.

