Laba Bayan (BYAN) Turun Jadi US$ 784,1 Juta di 2025, Target Tahun Ini Diungkap
JAKARTA, investortrust.id – PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mencatatkan penurunan laba periode berjalan menjadi US$784,1 juta pada 2025, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar US$943,4 juta. Penurunan laba ini sejalan dengan pelemahan rata-rata harga jual batu bara.
Manajemen BYAN dalam penjelasan resminya menyebutkan pendapatan perseroan turun menjadi US$3,42 miliar pada 2025, dari sebelumnya US$3,44 miliar. Penurunan tersebut terjadi meski volume penjualan meningkat signifikan dari 56,2 juta ton menjadi 70,8 juta ton.
Baca Juga
Apindo Soroti Dampak Sosial Pemangkasan Produksi Nikel dan Batu Bara 2026
Kenaikan volume penjualan tidak mampu mengimbangi penurunan rata-rata harga jual batu bara yang turun dari US$61,3 per ton menjadi US$48,4 per ton. Sementara itu, rasio pengupasan tanah (stripping ratio) berhasil dipertahankan di level 4,5 kali.
Untuk 2026, perusahaan yang dikendalikan Low Tuck Kwong (BYAN) ini menargetkan volume penjualan hingga 78 juta ton dengan potensi pendapatan maksimal US$3,8 miliar. Rata-rata harga jual batu bara diproyeksikan berada di kisaran US$46–48 per ton dengan biaya tunai sekitar US$36–42 per ton.
Baca Juga
Harga Minyak Bergejolak, Militer AS Siap Kawal Kapal Tanker di Selat Hormuz
Hingga pertengahan Februari 2026, Bayan (BYAN) mengungkap telah memiliki kontrak penjualan sebanyak 61,3 juta ton batu bara. Sebanyak 79% dari total kontrak menggunakan harga mengambang dan sebanyak 21% di harga tetap.
Guna mendukung target tersebut, perseroan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$200–300 juta pada tahun ini, lebih rendah dibandingkan realisasi tahun lalu yang mencapai US$399,2 juta.

