AUM Manajer Investasi Tembus Rp 1.000 Triliun, Primus Dorimulu: Selamat Tinggal Era Pertumbuhan 5%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - CEO Investortrust.id Primus Dorimulu menyampaikan optimisme tinggi terhadap masa depan pasar modal Indonesia dalam acara Best Mutual Fund Awards 2026. Acara yang digelar oleh Investortrust bekerja sama dengan Infovesta ini menjadi ajang apresiasi bagi para Manajer Investasi dan Wakil Manajer Investasi (WMI) atas kinerja mereka di tengah dinamika ekonomi global.
Dalam sambutannya, Primus mengungkapkan bahwa data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan pencapaian historis bagi industri pengelolaan dana di Tanah Air. Ia menyebutkan bahwa pada pekan pertama Februari 2026, Nilai Aktiva Bersih (NAB) atau Asset Under Management (AUM) manajer investasi telah melampaui angka psikologis yang signifikan.
"Kabar gembira pertama adalah data OJK. Pekan pertama Februari (hari ini kita tanggal 25), pekan pertama Februari, nilai aktiva bersih, Asset Under Management dari manajer investasi sudah menembus Rp 1.000 triliun. Boleh kita bertepuk tangan? Tepatnya Rp 1.089 triliun. Dan NAB reksa dana sudah mencapai Rp 722,2 triliun. Ini capaian luar biasa," ujar Primus di Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Primus menjelaskan bahwa pertumbuhan ini sebenarnya sudah mulai terlihat sejak akhir tahun lalu. Berdasarkan data chart yang dipaparkan, angka Rp 1.000 triliun tersebut sejatinya telah terlampaui pada November 2025, yang menunjukkan resiliensi pasar modal Indonesia terhadap gejolak sosial dan politik yang sempat terjadi.
"Sebetulnya pada November 2025 angka Rp 1.000 triliun AUM manajer investasi sudah terlampaui. Ini sebuah prestasi yang baik di tengah pesimisme. November berarti setelah kerusuhan Agustus ya? Agustus, September, Oktober, November. Jadi orang pasar modal itu tidak ikut-ikutan pesimistis kerusuhannya. Tetap kita rasional, percaya pada masa depan Indonesia," tegasnya.
Baca Juga
Investortrust dan Infovesta Anugerahkan Best Mutual Fund 2026 kepada 44 Manajer Investasi
Melihat distribusi dana kelolaan, Primus memaparkan bahwa reksa dana masih menempati posisi teratas, disusul oleh Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) dan Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT). Meski pertumbuhan persentase terbesar ada pada Efek Beragun Aset (EBA), namun secara nominal, reksa dana tetap mendominasi dengan pertumbuhan sekitar 30%.
Kemudian, sektor ritel juga menunjukkan angka yang menggembirakan. Primus mencatat adanya lonjakan partisipasi masyarakat umum dalam berinvestasi.
"Kabar gembira lainnya adalah gara-gara mutual fund ini, investor ritel di pasar modal sudah, terakhir katanya sudah menembus 22 juta. Saya pikir ini angka yang bagus sekali tentang pasar modal kita," tambahnya.
Primus juga menyoroti pergeseran strategi investasi akibat kondisi makroekonomi. Menurutnya, kenaikan suku bunga sebelumnya membuat pasar saham tertekan, sehingga manajer investasi yang fokus pada fixed income (pendapatan tetap) kini memimpin klasemen dana kelolaan terbesar.
Ia menyebutkan beberapa nama besar yang mendominasi pasar saat ini, seperti Manulife, Trimegah, Bahana, BRI, Syailendra, hingga Mandiri dan Batavia. Di sisi lain, Primus juga menunjukkan data mengenai 20 manajer investasi dengan pertumbuhan AUM tertinggi, di mana kenaikan signifikan terlihat pada Recapital, Kisi, dan UOB.
Baca Juga
Fixed-Income Mutual Funds Remain Top Pick for Investors, Says BRI Manajemen Investasi
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa Indonesia masih harus mengejar ketertinggalan di kancah global. Saat ini, Amerika Serikat masih mendominasi dengan AUM reksa dana mencapai US$ 47 triliun. Indonesia sendiri saat ini berada di peringkat 15 dunia dalam rasio AUM terhadap PDB, masih berada di bawah Arab Saudi.
"Indonesia belum ada di top ten. Mudah-mudahan ketika ekonomi kita mencapai 8%, kita masuk top ten," harap Primus.
Ia pun membandingkan posisi Indonesia dengan negara-negara seperti Kanada dan Amerika yang memiliki rasio AUM terhadap PDB melampaui 100%. Sementara terkait kebijakan fiskal, Primus melihat adanya perubahan arah yang positif di bawah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Pemerintah kini lebih mendorong kemajuan pasar saham dibandingkan terus-menerus menaikkan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) yang dapat membebani anggaran negara.
"Bagi Pak Purbaya, yang harus maju itu bukan SBN-nya, tetapi pasar sahamnya. Begitu. Itu clear dia menyatakan itu ke sana. Kenapa? Kalau SBN tinggi, beban negara," jelasnya.
Ia juga optimis dengan sinergi antara otoritas fiskal dan moneter seiring masuknya Thomas Djiwandono dalam jajaran Deputi Bank Indonesia. Mengenai badan pengelola investasi baru, Danantara, Primus berharap lembaga ini mampu menjadi pemantik investasi bersama sektor swasta. Dengan dialihkannya dividen BUMN ke Danantara, diharapkan tata kelola (governance) tetap terjaga demi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Lebih jauh, optimisme pasar saham juga didorong oleh tren penurunan suku bunga. Primus memproyeksikan BI Rate bisa menyentuh angka 4,25% di akhir tahun jika terjadi pemangkasan 50 basis poin, searah dengan kebijakan The Fed. Penurunan ini diharapkan dapat mengalihkan likuiditas dari instrumen pendapatan tetap kembali ke pasar ekuitas.
Di sisi lain, ia pun mengajak seluruh pihak untuk mengampanyekan investasi kepada generasi muda. Ia meyakini bahwa berbagai program pemerintah, mulai dari Makan Bergizi Gratis hingga pembangunan 3 juta rumah, akan menjadi motor penggerak ekonomi yang kuat.
"Pak Purbaya kan sudah menyatakan, memproklamasikan kita meninggalkan era 5%. Kita masuk pada era 6, 7, 8% pertumbuhan ekonomi. Selamat tinggal pertumbuhan 5%. Dan dia mengatakan 8 tahun ke depan, 2026 sampai dengan 2033, Indonesia, ekonomi Indonesia masuk pada fase ekspansi. Oleh karena itu, kita sama-sama kampanye supaya milenial, Gen Z sekarang mulailah membeli produk-produk reksadana, membeli saham, beli... ya terutama reksadana karena malam hari ini kita bicara reksadana. Beli reksa dana. Kita sama-sama kampanye agar anak muda kita mencapai generasi emas bersama reksadana," pungkas Primus.

