Diprediksi Masuki Fase Lompatan, Saham Timah (TINS) Direvisi Naik ke Level Ini
JAKARTA, investortrust.id – PT Timah Tbk (TINS) bakal memasuki fase lonjakan laba (earnings inflection) tahun buku 2026. Hal ini didorong normalisasi operasional serta prospek harga timah global yang tetap solid.
Perbaikan prospek tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas dalam riset yang dipublikasikan pekan lalu merevisi naik target harga saham TINS menjadi Rp 4.800. Adapun pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (23/2/2026), melesat 5,10% menjadi Rp 4.130.
Baca Juga
Dirjen Minerba Sebut Indonesia Bikin Harga Timah Naik Tembus US$ 51.000 Per Ton
Tim riset BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa perbaikan kinerja operasional TINS sudah mulai terlihat dari realisasi pada kuartal IV-2025. Perbaikan run rate pada kuartal IV-2025 menjadi landasan target produksi perseroan sebanyak 30 ribu ton pada 20206 dengan potensi kenaikan, apabila revisi RKAB terealisasi.
Adapun tahun 2025, Timah (TINS) berhasil mencatatkan produksi sebanyak 17,8 ribu ton akibat kendala perizinan.
“Dengan kapasitas smelter terpasang sekitar 75 ribu ton per tahun bersamaan dengan stabilitas pasokan bijih akan menjadi faktor penopang perseroan. TINS juga masih memiliki aset sitaan sekitar Rp 1,4 triliun yang terdiri dari logam timah, bijih timah, dan aset kas, yang belum tercatat dalam pembukuan perseroan dan berpotensi memberi tambahan nilai,” tulis riset tersebut.
Baca Juga
IHSG Bergerak Melesat 1,09% di Awal Pekan Ini, Saham EMAS Hingga TPIA Melambung
Terkait proyeksi kinerja keuangan, BRI Danareksa Sekuritas menargetkan pendapatan TINS tahun ini turun 18% menjadi Rp 21,4 triliun akibat asumsi volume yang lebih rendah, yakni 30 ribu ton dari sebelumnya 35 ribu ton, seiring risiko waktu RKAB dan normalisasi aliran bijih.
Adapun asumsi cash cost dinaikkan menjadi US$ 28,9 ribu per ton untuk mengakomodasi kenaikan biaya pengadaan bijih sekitar Rp 300 ribu per ton serta potensi penerbitan HPM. Penyesuaian ini berdampak pada revisi EBITDA sebesar 29% dan proyeksi laba bersih turun 35% menjadi sekitar Rp 3 triliun tahun ini.
“Meski proyeksi laba diturunkan, margin kas dinilai masih sejalan dengan panduan manajemen di kisaran US$ 10–12 ribu per ton dengan asumsi harga jual rata-rata (ASP) US$40 ribu per ton,” tulisnya.

