Buyback Rp 2 Triliun Dongkrak Saham Chandra Asri (TPIA), Manajemen Bidik Stabilitas Harga
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) berhasil terekerek naik setelah pengumuman pembelian kembali (buy back) saham dengan target anggaran Rp 2 triliun. Aksi ini dilakukan setelah saham perusahaan petrokimia ini anjlok dalam beberapa pekan terakhir.
Manajemen TPIA melalui pengumuman resminya di Bursa Efek Indonesia (BEI), kemarin, menyebutkan bahwa dana senilai Rp 2 triliun berasal dari kas internal perseroan. Dengan dana tersebut, perseroan menargetkan buy back sebanyak 0,29% saham.
Baca Juga
Perusahaan Patungan Chandra Asri (TPIA) Gelontorkan US$155 Juta Rejuvenasi Kilang Bukom
Buy back saham tersebut akan digelar selama tiga bulan dimulai 4 Februari dan berakhir pada 3 Mei 2026. Perusahaan yang dikendalikan Prajogo Pangestu ini juga telah menunjuk PT Henan Putihrai Sekuritas sebagai broker yang ditunjuk untuk merealisasikan aksi korporasi tersebut.
Manajemen TPIA menyebutkan bahwa aksi ini bagian dari Upaya perseroan untuk meningkatkan nilai bagi pemegang saham, meningkatkan kinerja saham sesuai dengan kondisi fundamental perseroan, menjaga stabilisasi harga saham TPIA, dan menjaga kepercayaan publik.
Adapun berdasarkan data BEI, saham TPIA telah turun lebih dari 6% menjadi Rp 6.625 selama sebulan terakhir. Sedangkan penurunan selama setahun terakhir telah lebih dari 22%.
Sebelumnya, Aster Chemicals and Energy Pte Ltd, perusahaan patungan milik konglomerat Prajogo Pangestu dan Chandra Asri (TPIA), memperkuat ketahanan pasokan energi melalui investasi rejuvenasi senilai US$ 155 juta di fasilitas pengilangan Bukom.
Baca Juga
Chandra Asri (TPIA) Kembangkan Turbin Gas Hydrogen-Ready Senilai US$ 150 Juta
Langkah strategis ini bertujuan meningkatkan kemampuan pemrosesan minyak mentah sekaligus mendongkrak keandalan operasional untuk memenuhi permintaan pasar dan mempertegas posisi Singapura sebagai hub kilang dan petrokimia regional.
Salah satu proyek utama adalah revitalisasi Condensate Splitter Unit (CSU) senilai US$ 75 juta yang akan meningkatkan kapasitas pemrosesan crude Bukom menjadi lebih dari 300.000 barel per hari. Selain itu, Lube Oil Complex (LOC) diremajakan melalui proyek senilai US$ 71 juta guna memungkinkan peningkatan residu kilang secara aman dan andal untuk memproduksi base oil bernilai lebih tinggi bagi industri pelumas, kelautan, hingga otomotif.

