IHSG Anjlok 4,88% Akibat Penurunan Seluruh Sektor Saham, Sebaliknya BBCA dan AADI Perkasa
JAKARTA, investortrust.id – Penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (2/2/2026), ditutup kembali terjun parah sebanyak 406,88 poin (4,88%) menjadi 7.922. Rentang pergerakan 7.820-8341 dengan nilai transaksi Rp 27 triliun.
Penurunan tersebut sejalan dengan kejatuhan indek saham bursas Asia. Penurunan juga dipicu atas kejatuhan seluruh sektor saham dengan penurunan paling dahysat dicatatkan saham material dasar melemah 10,74%, sektor energi turun 7,66%, sektor consumer primer melemah 7,67%, seketor infrastruktur turun 6,06%, sektor property melemah, 6,27%.
Baca Juga
Prabowo Peringatkan para mantan Bos BUMN: Siap-Siap Kau Dipanggil Kejaksaan
Penurunan indeks juga dipicu atas kejatuhan saham-saham konglomerasi, seperti saham Sinarmas DSSSA, saham AMMN, saham grup Aguan PANI dan CBDK, saham Prajogo Pangestu BREN, BRPT, TPIA, PTRO, dan saham konglomerasi Happy Hapsoro, dan emiten Haji Isam.
Meski indeks turun tajam, sejumlah saham masih pertahankan penguatan mengesankan, seperti BBCA naik 2,70% menjadi Rp 7.600, CMRY naik 5,39% menjadi Rp 5.375, INDF menguat 3,31% menjadi Rp 7.025, AADI naik 6,25% menjadi Rp 8.075, dan EDGE naik 12,55% menjadi Rp 5.200. Kenaikan hingga auto reject atas (ARA) dibukukan SOHO sebanyak 24,79% menjadi Rp 2.240.
Pekan lalu, indeks harga saham gabungan (IHSG) BEI ditutupa njlok mencapai 621 poin (6,94%) menjadi 8.329. Koreksi tersebut menjadi penurunan mingguan IHSG BEI terparah dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, perdagangan saham sempat terkena trading halt selama dua hari beruntun.
Baca Juga
Delta Giri (DGWG) Catat Rekor Penjualan Tertinggi Sepanjang Sejarah pada 2025
Penurunan tersebut membuat kapitalisasi pasar (market cap) BEI menguap Rp 1.197 triliun menjadi Rp 15.046 triliun hanya dalam sepekan. Tak hanya itu, pemodal asing terpantau merealisasikan penjualan bersih (net sell) saham jumbo mencapai Rp 13,92 triliun pekan ini.
Adapun pada perdagangan akhir pekan, indeks berhasil rebound signifikan 97,41 poin (1,18%) menjadi 8.329. Meski demikian, net sell saham oleh pemodal asing masih gencar dengan total senilai Rp 1,5 triliun.

