Bagikan

OJK Tunjuk Friderica Widyasari Jadi Bos OJK, Intip Profilnya

Poin Penting

OJK tunjuk Friderica Widyasari Dewi sebagai Anggota DK Pengganti Ketua dan Wakil Ketua.
Hasan Fawzi ditetapkan sebagai Anggota DK Pengganti Pengawas Pasar Modal.
Penunjukan efektif 31 Januari 2026 demi stabilitas kelembagaan OJK.


JAKARTA, investortrust.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menetapkan Friderica Widyasari Dewi sebagai Anggota Dewan Komisioner Pengganti Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK. Saat ini, Friderica menjabat sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen.

Selain itu, OJK juga menunjuk Hasan Fawzi sebagai Anggota Dewan Komisioner Pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon. Hasan Fawzi saat ini menjabat sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto.

Penunjukan Anggota Dewan Komisioner Pengganti tersebut dilakukan sesuai dengan mekanisme yang diatur dalam Peraturan Dewan Komisioner OJK. Langkah ini merupakan bagian dari sistem kelembagaan OJK guna menjaga stabilitas organisasi dalam pelaksanaan fungsi dan tugasnya. Keputusan jabatan Pejabat Pengganti tersebut berlaku efektif mulai 31 Januari 2026.

Baca Juga

Jadi Ketua dan Wakil Ketua DK OJK, Friderica Widyasari Dewi Gantikan Mahendra dan Mirza

Profil Friderica Widyasari Dewi

Friderica Widyasari Dewi atau yang akrab disapa Kiki menyelesaikan pendidikan Sarjana di bidang ekonomi di Universitas Gadjah Mada pada 2001. Ia kemudian melanjutkan studi ke California State University, Amerika Serikat, dan memperoleh gelar Master of Business Administration pada 2004. Selanjutnya, Kiki meraih gelar Doktor di bidang studi Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan dari Universitas Gadjah Mada pada 2019.

Lahir di Cepu pada 28 November 1975, Kiki telah menapaki karier lebih dari satu dekade di pasar modal Indonesia. Ia memulai kiprahnya di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 2005 hingga dipercaya menjabat sebagai Direktur Pengembangan Pasar BEI pada periode 2009–2015.

Kariernya kemudian berlanjut di lingkungan self-regulatory organizations (SRO) lainnya. Kiki menjabat sebagai Direktur Keuangan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada 2015–2016, sebelum dipercaya menjadi Direktur Utama PT KSEI pada 2016–2019. Selanjutnya, ia mengemban amanah sebagai Direktur Utama BRI Danareksa Sekuritas pada periode 2020–2022.

Di samping pengalaman profesionalnya, Kiki juga memiliki sertifikat Wakil Manajer Investasi (WMI) dan Wakil Penjamin Emisi Efek (WPEE) yang diterbitkan oleh OJK pada 2019.

Menarik jika menyimak disertasi Kiki untuk meraih gelar Doktor dari Program Studi Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan, Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogjakarta pada 2019 lalu. Dalam disertasi yang bertajuk ‘Analisis Dampak Struktur kepemilikan terhadap Nilai Perusahaan dan Risiko pada Perusahaan yang Tercatat di bursa Efek Indonesia’, ia mengangkat isu pertumbuhan pasar modal yang belum optimal.

Dalam disertasinya Kiki menyoroti paradoks perkembangan pasar modal Indonesia yang tumbuh cukup pesat secara kinerja, namun belum optimal dalam mendukung kebutuhan pendanaan pembangunan nasional. Meski IHSG menunjukkan penguatan dan menempatkan Indonesia pada posisi kompetitif di kawasan Asia, tingkat partisipasi investor domestik masih sangat rendah, kurang dari satu persen populasi, serta kepemilikan asing yang relatif besar masih menimbulkan risiko capital flight.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia belum sepenuhnya menjalankan mandat UU Pasar Modal No. 8 Tahun 1995 sebagai sarana pemerataan kesejahteraan melalui partisipasi masyarakat luas.

Melalui penelitian empiris terhadap perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEI periode 2011–2015, Kiki menganalisis dampak struktur kepemilikan terhadap nilai dan risiko perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif antara konsentrasi kepemilikan pada satu pihak dengan nilai perusahaan, yang menguatkan argumen terjadinya ekspropriasi oleh pemegang saham mayoritas terhadap pemegang saham minoritas.

Struktur kepemilikan yang terkonsentrasi, yang lazim di negara dengan sistem Civil Law seperti Indonesia, meningkatkan kesenjangan antara hak kendali dan hak arus kas, sehingga memperbesar risiko perusahaan dan menurunkan nilainya. Menariknya, perusahaan yang dikendalikan pemerintah cenderung memiliki kinerja lebih baik dibandingkan yang dikendalikan swasta, sementara kepemilikan individual justru berdampak negatif pada nilai perusahaan.

Sebagai rekomendasi kebijakan, disertasi ini menekankan pentingnya penguatan tata kelola perusahaan dan transparansi struktur kepemilikan guna melindungi investor minoritas dan meningkatkan kepercayaan pasar. Kiki menilai penerbitan POJK No. 7, 8, dan 11 Tahun 2017 sudah relevan, namun perlu diperluas dengan kewajiban keterbukaan kepemilikan ultimat kepada publik melalui situs web perusahaan dan laporan keuangan yang diaudit. Selain itu, penegakan regulasi secara tegas serta pembukaan rekening investasi oleh penerima manfaat ultimat dipandang krusial untuk mengurangi asimetri informasi dan mendorong pertumbuhan pasar modal yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Profil Dr. Friderica Widyasari Dewi SE, MBA

PENDIDIKAN FORMAL

2019 Doktor - Universitas Gadjah Mada predikat Cumlaude

2004 MBA - California State University of Fresno, USA

2001 Sarjana Ekonomi (SE) - Universitas Gadjah Mada

PENGALAMAN KERJA

2022 – Saat ini: Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK

2020-2022: Direktur Utama PT BRI Danareksa Sekuritas

2016-2019: Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI)

2015-2016: Direktur Keuangan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI)

2009 -2015: Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI)

2023 – Saat ini: Koordinator Dewan Pembina Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (SATGAS PASTI) dan Indonesia Anti Scam Centre (IASC)

2023 – Saat ini: Anggota Komite Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat

ORGANISASI INTERNASIONAL

2022 – Saat ini: Advisory Board pada The OECD Internasional Network on Financial Education (OECD/INFE)

2022 – Saat ini: Governing Council pada the International Finansial Consumer Protection Organisation (FinCoNet)

PUBLIKASI

Buku: Cara Bijak Mengelola Portofolio Investasi

Buku: Pengawasan Market Conduct: A Game Changer

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024