BCA (BBCA) Jadi Bank Paling Defensif, Analis Soroti Prospek Kuat di 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Industri perbankan Indonesia pada 2026 diperkirakan memasuki fase pemulihan yang lebih moderat, seiring normalisasi likuiditas dan penyesuaian suku bunga. Meski demikian, tantangan struktural, terutama terkait stabilitas kualitas aset perbankan, masih menjadi tantangan industry sepanjang tahun ini.
Di antara sejumlah bank yang sudah tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham bank PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dinilai berada pada posisi paling defensif menghadapi dinamika tersebut. Hal ini tercermin dari rasio loan at risk (LAR) BCA pada 2025 yang membaik menjadi 4,8% dari sebelumnya 5,3%.
Baca Juga
Pada periode yang sama, rasio non-performing loan (NPL) terkendali di level 1,7%. Pencadangan NPL dan LAR memadai masing-masing sebesar 183,8% dan 71,6%. Begitu juga dari sisi kinerja keuangan berhasil catatkan kenaikan dengan laba bersih bertumbuh 4,9% dari Rp 54,84 triliun menjadi Rp 57,5 triliun pada 2025.
BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) dalam riset sektor perbankan yang dirilis pertengahan Januari 2026 menilai kualitas aset menjadi faktor pembeda antarbank. BRIDS menilai bahwa NPL sektor perbankan belum sepenuhnya keluar dari fase kenaikan, terutama pada segmen kredit konsumer dan UMKM.
“Kami menilai NPL masih berpotensi berada dalam fase upcycle pada 2026, dengan risiko delinkuensi yang lebih tinggi berasal dari kredit konsumer dan UMKM,” tulis analis BRIDS Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis.
Di tengah fase tersebut, BRIDS menjadikan saham BCA sebagai pilihan teratas atau top pick berkat profil pendapatan yang lebih aman dan kualitas aset yang lebih solid dibandingkan bank lain. Hal ini mendorong BRIDS untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA dengan target harga Rp 10.800 per saham.
Baca Juga
Harga Saham BCA (BBCA) Terkoreksi Sepekan, Manajemen BCA: Aksi Jual Asing Masih Wajar
Pandangan senada juga diungkapkan tim riset CGS International dalam laporan sektor perbankan yang dirilis Desember 2025. CGS menilai industri perbankan masih berada dalam kondisi operasional yang menantang, namun bank dengan disiplin manajemen risiko kuat berpotensi lebih resilien.
“Kami mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor ini karena melihat prospek laba bersih yang lebih baik di 2026F, didorong peningkatan volume kredit dan tren pembalikan pada biaya pendanaan,” tulis analis CGS Handy Noverdanius, Owen Tjandra, dan Elizabeth Noviana.
CGS juga menempatkan saham BBCA sebagai pilihan teratas atau top pick, karena fokus pada segmen wholesale yang diuntungkan sentimen bisnis yang membaik dan foreign fund inflow. Stabilitas kualitas kredit dinilai menjadi salah satu keunggulan BCA dibandingkan bank lain. CGS mematok target harga BBCA Rp 10.700 dengan rekomendasi add (buy).

