Saham Merdeka Gold (EMAS) Terbang 125% sejak IPO, Market Cap Tembus Rp 105 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) ditutup melesat sebanyak 18,18% sentuh level tertinggi baru sepanjang masa (all time high/ATH) Rp 6.500 pada perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (20/1/2026). Kenaikan tersebut menjadikan kapitalisasi pasar (market cap) EMAS berada di atas Rp 100 triliun, tepatnya Rp 105,17 triliun.
Tak hanya mencatatkan penguatan pesat, saham EMAS menyelamatkan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dari kejatuhan hari ini. Berkat penguatan saham EMAS, IHSG berhasil ditutup naik tipis tipis 0,83 poin (0,01%) menjadi 9.134.
Baca Juga
Merdeka Gold (EMAS) Jawara Hari Ini: Harga Meroket 10%, Kalahkan Emiten Emas Lain
Dengan lompatan harga tersebut, saham EMAS telah berhasil catatkan kenaikan harga lebih dari 125% dari harga IPO saham Rp 2.880 pada 23 September 2025 menjadi Rp 6.500 pada penutupan perdagangan hari ini atau kurang dari 4 bulan diperdagangan di BEI.
Penguatan harga saham EMAS juga mendorong lompatan harga saham induknya, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sebanyak 4,90% menjadi Rp 3.210. Kapitalisasi pasar saham MDKA ikut menguat menjadi Rp 78,55 triliun.
Berdasarkan data BEI, saham EMAS memimpin penguatan saham-saham sektor produsen emas sepanjang hari ini. Adapun pergerakan harga saham EMAS berada dalam rentang Rp 5.400-6.600.
Baca Juga
Merdeka Gold Resources (EMAS) Mulai Ore Feeding di Tambang Emas Pani
Kenaikan harga saham EMAS mengungguli saham-saham emiten emas lain, seperti ARCI naik 6,04% menjadi Rp 2.020, BRMS naik 6,50% menjadi Rp 1.310, ANTM naik 3% menjadi Rp 4.120, PSAB menguat 5,65% menjadi Rp 655, dan INDY berbalik naik 1,94% menjadi Rp 3.670.
Lompatan harga saham EMAS ini sejalan dengan penguatan harga komoditas emas global. Harga emas dunia kini mencapai US$ 4.734 per troy ounce atau naik 9,50% dalam sebulan terakhir dan naik lebih dari 72% dalam setahun terakhir.
Emiten Emas Berbiaya Rendah
Merdeka Gold (EMAS) berpotensi menjadi menjadi salah satu tambang emas terbesar yang belum dikembangkan di kawasan Asia Pasifik. Proyek unggulannya, Pani Gold, membidik produksi sekitar 500 ribu ounce emas per tahun. Perseroan juga tercatat sebagai pengembangan emas berbiaya rendah di dunia. EMAS juga tercatat sebagai emiten tambang emas dengan cadangan emas terbesar yang tercatat di BEI.
Analis Indopremier Sekuritas Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan mengatakan, proyek Pani Gold memiliki cadangan emas sebesar 4,8 juta ounce dan sumber daya mencapai 7,0 juta ounce, dengan kadar rata-rata 0,75 gram per ton (g/t).
Baca Juga
Tembus 4,8 Juta Ons, Cadangan 'Ore' Merdeka Gold (EMAS) Jauh Lampaui Kompetitor di BEI
Saham EMAS juga didukung pembangunan pabrik heap-leach berkapasitas 7 juta ton per tahun ditargetkan selesai pada awal tahun fiskal 2026. Sementara pabrik carbon-in-leach (CIL) dengan kapasitas 12 juta ton per tahun dijadwalkan rampung pada FY29F. Selain faktor operasianal, Indopremier Sekuritas mengungkap, tren kenaikan harga emas global.
Indopremier Sekuritas menyebutkan bahwa EMAS didukung strategi pertumbuhan yang berfokus pada monetisasi proyek Pani Gold melalui peningkatan kapasitas produksi. “Dengan penyelesaian pabrik heap-leach pada kuartal I-2026, perusahaan diperkirakan mulai mencatat laba bersih tahun 2026, berbalik dari rugi bersih pada 2025. Sedangkan laba bersih tahun 2027 diperkirakan tumbuh 35%, seiring peningkatan kapasitas dan efisiensi produksi,” tulisnya.
Selain itu, Pani Gold diprediksi menjadi salah satu produsen emas berbiaya tunai terendah di dunia, dengan estimasi US$ 600–1.070 per ounce selama periode 2026-2029.

