Mirae Asset: IHSG Optimistis Tembus 10.500 di 2026 Usai Cetak Rekor Berkali-kali Awal Tahun Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai prospek pasar saham Indonesia pada 2026 tetap konstruktif dengan target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di level 10.500. Proyeksi tersebut ditopang ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi serta potensi kebijakan yang lebih akomodatif.
Adapun pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (14/1/2026) hingga pukul 13.50 WIB, IHSG berhasil torehkan kenaikan sebanyak 90 poin (0,98%) menjadi ke level tertinggi barau (all time high/ATH) 9.039
Baca Juga
Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto menyebutkan bahwa IHSG melanjutkan tren positif dari tahun sebelumnya. Pada Januari 2026, IHSG bahkan mencetak rekor tertinggi dengan penutupan di level 8.944,8 pada Rabu (7/1/2026).
“Penguatan IHSG di awal 2026 terjadi di tengah data ekonomi yang relatif kurang menggembirakan, mulai dari inflasi Desember yang tinggi, surplus neraca perdagangan yang lebih rendah, hingga defisit fiskal yang melebar akibat penerimaan pemerintah yang masih lemah,” ujar Rully.
Selain sentimen domestik, tekanan eksternal turut membayangi pasar keuangan. Sentimen risk-off global mendorong penguatan indeks Dollar AS (DXY) dan berdampak pada depresiasi Rupiah, yang untuk pertama kalinya ditutup di atas Rp16.800 per dolar AS sejak April 2025.
Baca Juga
IHSG Berpeluang Menuju 9.450, Sektor Perbankan Jadi Tulang Punggung Sepanjang 2026
Kondisi tersebut mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter. Kombinasi inflasi tinggi dan pelemahan Rupiah membuat Bank Indonesia dinilai memiliki ruang sangat terbatas untuk menurunkan suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 20–21 Januari 2026.
“Dalam jangka pendek, arah kebijakan moneter akan sangat berhati-hati. Namun, pasar saham tetap bergerak positif karena pelaku pasar melihat prospek ekonomi yang lebih baik ke depan, terutama jika kebijakan moneter dan fiskal dapat diselaraskan,” jelasnya.
Dalam jangka menengah, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan meningkat menjadi 5,3% pada 2026, dibandingkan sekitar 5,1% pada 2025. Momentum tersebut akan bergantung pada efektivitas kebijakan fiskal dalam mendukung belanja produktif dan keberlanjutan pertumbuhan.
“Keselarasan kebijakan moneter dan fiskal menjadi salah satu faktor kunci yang mendukung target IHSG 10.500. Jika likuiditas terjaga dan stimulus fiskal berjalan efektif, pasar akan memiliki pondasi yang lebih kuat,” katanya.
Baca Juga
Dalam jangka panjang, konsistensi kebijakan dan kepastian arah ekonomi dipandang mampu menjaga kepercayaan investor. Dari sisi sektoral, penguatan IHSG sejak awal 2026 didorong saham komoditas dan pertambangan seperti AMMN, BUMI, BYAN, dan BRMS, seiring penguatan harga komoditas khususnya emas di tengah ketidakpastian geopolitik.
Selain komoditas, sektor telekomunikasi dan infrastruktur telekomunikasi juga diperkirakan menjadi pendorong IHSG, didukung pertumbuhan ekonomi digital dan kebutuhan investasi jaringan yang berkelanjutan.
Dengan kombinasi tren pasar positif, prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, serta potensi keselarasan kebijakan moneter dan fiskal, Mirae Asset optimistis IHSG tetap bullish sepanjang 2026.

