Iran Buka Opsi Pembayaran Kripto untuk Ekspor Senjata Militer
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Iran secara terbuka menyatakan kesiapan menerima pembayaran menggunakan aset kripto untuk transaksi pembelian sistem persenjataan militernya.
Dilansir dari CryptoNewsFlash, Selasa (6/1/2026), pernyataan tersebut disampaikan melalui Ministry of Defense Export Center (Mindex), lembaga resmi ekspor pertahanan Iran, sebagai tambahan atas pembayaran menggunakan mata uang rial maupun skema barter yang disepakati dengan pembeli.
Langkah ini dinilai sebagai upaya Iran memperluas opsi transaksi internasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sistem keuangan konvensional. Dengan skema baru tersebut, calon pembeli diberikan fleksibilitas lebih besar dalam melakukan pembayaran, selama tetap sesuai dengan ketentuan hukum di masing-masing negara.
Baca Juga
Pasar Kripto Bangkit, Kapitalisasi Naik US$ 100 Miliar di Tengah Ketegangan AS-Venezuela
Mindex menyebut, pihaknya memiliki hubungan kerja sama dengan puluhan negara dan melayani calon pembeli melalui sebuah platform daring yang menampilkan berbagai produk persenjataan modern.
Produk yang ditawarkan bukan kategori ringan, melainkan mencakup rudal balistik, drone tempur, kapal perang, hingga sistem pertahanan udara yang umumnya menjadi bagian dari transaksi militer berskala besar.
Penggunaan aset kripto, termasuk stablecoin, dalam perdagangan militer menimbulkan dimensi baru dibandingkan pemanfaatan aset digital untuk transaksi komersial biasa.
Selain aspek ekonomi, langkah ini sarat dengan kepentingan geopolitik dan strategi keuangan. Iran tampak ingin menunjukkan kemampuannya beradaptasi dengan teknologi finansial modern sebagai alat dalam menjaga kelangsungan hubungan dagang internasional.
Baca Juga
Indeks Sentimen Kripto Naik, Tekanan Jual Dinilai Mulai Mereda
Sebelumnya, pada pertengahan November 2025, Iran dilaporkan tengah menjajaki penggunaan aset kripto sambil mendorong negara-negara BRICS untuk mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat (AS).
Strategi itu dipandang sebagai upaya memperkuat kedaulatan ekonomi dan menghindari sistem keuangan global yang dinilai tak bersahabat.
Namun, penggunaan aset kripto oleh Iran juga mendapat sorotan tajam. Pada pertengahan September 2025, Israel menyita 187 dompet kripto yang diduga terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), dengan aliran dana Tether mencapai US$ 1,5 miliar.

