Serangan AS ke Venezuela Tak Goyahkan Bitcoin, BTC Justru Menguat ke US$ 91.000
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Harga Bitcoin (BTC) tetap stabil di atas US$ 90.000, meskipun ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela mencapai titik didih pada dini hari Sabtu (3/1/2026).
Harga Bitcoin bahkan masih mampu menguat dalam perdagangan 24 jam terakhir dan menembus level US$ 91.194 pada Minggu (4/1/2026) pagi waktu Asia. Berdasarkan data CoinMarketCap, aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar tersebut tercatat naik 1,29% secara harian.
Penguatan harga mendorong kapitalisasi pasar Bitcoin meningkat menjadi sekitar US$ 1,82 triliun, juga naik 1,29%. Sementara itu, volume perdagangan harian tercatat sebesar US$ 22,68 miliar, meski turun 50,6% dibandingkan periode sebelumnya, mengindikasikan kenaikan harga terjadi di tengah volume transaksi yang relatif lebih rendah.
Pergerakan harga Bitcoin sepanjang hari menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi. Setelah sempat mengalami tekanan dan turun ke kisaran US$ 89.000, harga BTC berbalik menguat secara bertahap hingga akhirnya menembus area US$ 91.000 pada awal perdagangan hari ini.
Dari sisi fundamental pasokan, total suplai Bitcoin tercatat sebesar 19,97 juta BTC, mendekati batas maksimum 21 juta BTC. Jumlah pasokan yang terbatas ini terus menjadi salah satu faktor utama yang menopang persepsi Bitcoin sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Rasio volume terhadap kapitalisasi pasar tercatat sebesar 1,23%, mencerminkan aktivitas perdagangan yang masih terjaga meski tidak seagresif periode volatil sebelumnya.
“AS membom sebuah negara dan menangkap pemimpinnya, bahkan di akhir pekan, namun Bitcoin hampir tidak bergerak,” kata Nic Puckrin, analis pasar dan pendiri perusahaan media kripto Coin Bureau dilansir dari Cointelegraph, Minggu (4/1/12026).
Baca Juga
Trump Garansi China dan Rusia Tetap Boleh Beli Minyak Venezuela
BTC diperdagangkan di atas rata-rata pergerakan 21 hari, dan jika tetap di atas level dukungan jangka pendek yang dinamis ini, itu menandakan apresiasi harga yang berkelanjutan di bulan Januari, menurut analis pasar Michaël van de Poppe.
Harga BTC yang tetap stabil meskipun terjadi guncangan geopolitik baru-baru ini sangat signifikan karena aset berisiko tinggi, termasuk BTC biasanya cenderung mengalami penurunan mendadak sebagai respons terhadap krisis geopolitik atau hambatan ekonomi makro.
Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump mengumumkan serangan udara terhadap ibu kota Venezuela, Caracas, pada hari Sabtu untuk menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Pengumuman tersebut menuai beragam reaksi daring, mulai dari dukungan hingga kecaman, tetapi sejauh ini berdampak kecil pada pasar keuangan.
“Ada banyak ketegangan geopolitik, dan minggu depan para pemain besar akan kembali. Jadi kita mungkin akan melihat lebih banyak volatilitas di Bitcoin setelah akhir pekan,” kata analis dan pedagang pasar kripto Lennaert Snyder.
Investor institusional di pasar keuangan tradisional biasanya tidak beroperasi selama akhir pekan, malam hari, atau hari libur. Para pemain institusional ini masih dapat bereaksi terhadap berita tersebut pada pembukaan pasar AS pada hari Senin dengan menjual aset dan meningkatkan volatilitas pasar.
Baca Juga
Trump Terus Terang Selain Narkoba, Minyak Jadi Alasan AS Serang Venezuela
Hal ini dapat menambah tekanan jual yang berkontribusi pada penurunan harga Bitcoin baru-baru ini, yang dimulai setelah penurunan tajam pada bulan Oktober yang menggagalkan momentum kenaikan harga Bitcoin.
Adapun harga BTC turun lebih dari 30% dari titik tertinggi sepanjang masa di atas US$ 125.000 ke titik terendah sekitar US$ 80.000 pada bulan November karena penurunan tajam tersebut sebelum pulih ke level US$ 90.000.

