IHSG Melonjak 22,1% Sepanjang 2025, OJK Tegaskan Resiliensi Pasar Modal Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tumbuh 22,10% secara year to date dan ditutup di level 8.644,26 pada akhir perdagangan 2025 menjadi cerminan nyata daya tahan dan resiliensi pasar modal Indonesia di tengah periode yang penuh tantangan. Kapitalisasi pasar yang menembus Rp 15.810 triliun atau tumbuh 28,16% ytd memperkuat keyakinan bahwa pasar modal nasional mampu bertahan dan berkembang meski dihadapkan pada ketidakpastian global sepanjang tahun.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi menegaskan bahwa capaian tersebut menunjukkan resiliensi dan daya saing pasar modal Indonesia yang semakin menguat.
“Pasar modal Indonesia menunjukkan resiliensi dan daya saing yang semakin menguat. Berbagai tantangan telah menguji ketangguhan dan ketahanan kita dalam mendorong pertumbuhan pasar modal yang berkelanjutan dan memperkokoh pondasi pasar modal Indonesia ke depan. Capaian ini tentu tidak terjadi secara kebetulan, tetapi merupakan hasil dari kerja keras, sinergi, dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan di industri pasar modal,” ujarnya dalam sambutan Penutupan Perdagangan BEI 2025 di Jakarta, Selasa (30/12/2025).
Sepanjang 2025, pasar modal Indonesia menghadapi dinamika global berupa ketidakpastian arah kebijakan moneter, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta tekanan dan sentimen perdagangan yang cukup kuat terutama pada awal tahun. Namun demikian, ketahanan pasar tercermin tidak hanya dari penguatan IHSG, tetapi juga dari pertumbuhan kapitalisasi pasar yang melampaui target Roadmap Pasar Modal dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), dengan rasio market cap terhadap PDB 2024 mencapai 71,41%.
Baca Juga
KPEI Catat Rata-Rata Nilai Penyelesaian Transaksi Rp 5,46 Triliun pada 2025
Di sisi pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) juga mencatat penguatan signifikan sebesar 12,10% ytd ke level 440,19.
Dari sisi penghimpunan dana, aktivitas pasar modal menunjukkan akselerasi yang solid. Inarno menyampaikan, sepanjang 2025, total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp 268,14 triliun dari 210 penawaran umum, termasuk 18 emiten saham baru dan dua emiten Efek Beragun Sekuritisasi (EBUS), melampaui target awal sebesar Rp 220 triliun.
Industri pengelolaan investasi turut mencatatkan pertumbuhan dana kelolaan hingga Rp 1.039 triliun atau meningkat 24,16% ytd, sementara penghimpunan dana melalui Securities Crowdfunding (SCF) secara akumulatif mencapai Rp 1,808 triliun dari 968 penerbit.
Pertumbuhan pasar juga ditopang oleh meningkatnya partisipasi investor ritel domestik. Sepanjang tahun, jumlah Single Investor Identification (SID) bertambah 5,34 juta investor baru sehingga total mencapai 20,2 juta SID. Dari jumlah tersebut, sekitar 79% didominasi oleh generasi berusia di bawah 40 tahun, menegaskan kuatnya momentum inklusi keuangan dan pendalaman basis investor domestik sebagai fondasi keberlanjutan pasar modal ke depan.
Selain itu, pengembangan instrumen dan ekosistem baru terus diperkuat, termasuk perdagangan karbon. Sejak diluncurkan pada 26 September 2023 hingga 29 Desember 2025, volume transaksi karbon tercatat mencapai 1,6 juta ton CO₂ ekuivalen dengan nilai transaksi Rp 80,75 miliar, melibatkan 150 perusahaan dan ketersediaan unit karbon sebesar 2,67 juta ton CO₂ ekuivalen. OJK juga menerbitkan berbagai regulasi strategis sepanjang 2025, termasuk 10 POJK dan enam SEOJK/PADK, serta meluncurkan buku “Mengenal dan Memahami Perdagangan Karbon bagi Sektor Jasa Keuangan” sebagai bagian dari penguatan ekosistem ekonomi hijau.
Dalam menjaga integritas pasar, OJK melakukan ratusan pemeriksaan dan menjatuhkan sanksi administratif atas berbagai pelanggaran, dengan total denda mencapai Rp 123,3 miliar. Memasuki 2026, OJK menetapkan agenda strategis yang mencakup pendalaman pasar, peningkatan integritas, penguatan kelembagaan pelaku industri, serta pengembangan keuangan berkelanjutan. OJK bersama Self-Regulatory Organization (SRO) pun mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat sinergi guna mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan.

