Sektor Keuangan Dominasi Pipeline IPO BEI 2026, Ada Bank Jakarta?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat antrean penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) pada 2026 didominasi emiten beraset besar. Kondisi ini memunculkan spekulasi di pasar, termasuk terkait potensi masuknya Bank Jakarta ke bursa.
Terlebih, BEI melaporkan, berdasarkan sektor mayoritas perusahaan yang berada dalam pipeline pencatatan saham berasal dari sektor keuangan.
“Dari sisi sektor, pipeline pencatatan saham BEI didominasi oleh sektor financials (keuangan) dengan 3 perusahaan, disusul basic materials sebanyak 2 perusahaan,” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna kepada media, dikutip Minggu, (28/12/2025).
Selain sektor keuangan dan bahan baku, masing-masing satu perusahaan dalam pipeline berasal dari sektor Energy, Industrials, Technology, serta Transportation & Logistic. Sementara itu, sektor consumer cyclicals, consumer non-cyclicals, layanan kesehatan, infrastruktur, serta properti dan & real estat hingga periode tersebut belum tercatat memiliki calon emiten dalam pipeline pencatatan saham.
Hingga 24 Desember 2025, BEI mencatat terdapat sembilan perusahaan dalam pipeline IPO, dengan enam di antaranya merupakan perusahaan beraset di atas Rp 250 miliar yang tengah bersiap melantai di bursa.
Nyoman menjelaskan selain enam perusahaan beraset besar tersebut, pipeline juga diisi oleh dua perusahaan dengan aset di bawah Rp 50 miliar serta satu perusahaan dengan aset menengah di kisaran Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar.
Baca Juga
Emiten Jumbo Kuasai 'Pipeline' IPO BEI, Sektor Keuangan Paling Ramai
Secara keseluruhan, hingga 19 Desember 2025, sebanyak 26 perusahaan telah mencatatkan saham di BEI dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp 18,11 triliun.
Di tengah dominasi sektor keuangan dalam pipeline IPO BEI tersebut, Bank Jakarta sebelumnya telah menyampaikan tengah mempersiapkan langkah strategis menuju pasar modal. Perseroan menargetkan penawaran umum perdana saham dapat terlaksana pada awal 2026, dengan potensi dana yang dihimpun mencapai Rp 3 triliun.
Direktur Utama Bank Jakarta, Agus Haryoto Widodo, mengatakan fokus utama perusahaan saat ini adalah memperkuat fundamental sebagai fondasi sebelum melangkah ke bursa.
“Mungkin tahun depanlah, awal-awal tahun depan (IPO-nya),” kata Agus kepada investortrust.id usai acara peluncuran rebranding nama dan logo baru Bank Jakarta di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Agus menegaskan, manajemen tidak ingin tergesa-gesa dalam merealisasikan IPO. Kesiapan internal serta kondisi pasar menjadi pertimbangan utama. “Proses IPO nya sedang kami siapkan. Tapi kami tidak mau terburu-buru. Ketika semuanya sudah siap, baik dari sisi internal maupun kondisi pasar baru kami akan melangkah,” jelasnya.

