Alamtri Resources (ADRO) Bagikan Dividen Interim Tunai US$ 250 Juta, Cair 15 Januari 2026
JAKARTA, investortrust.id – PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) menetapkan pembagian dividen interim tunai tahun buku 2025 senilai US$ 250 juta. Keputusan tersebut telah disetujui dewan direksi dan komisaris perseroan Rabu (17/12/2025).
Manajemen ADRO dalam penjelasan resminya di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin menyebutkan bahwa dividen interim ini dibagikan dalam bentuk tunai dan tidak berupa efek bersifat ekuitas selain saham yang dapat dikonversi menjadi saham. Namun demikian manajemen belum mengungkap nilai dividen per saham ADRO.
Baca Juga
Didukung Ekspansi Segmen Ini, Prospek Saham Alamtri (ADRO) kian Menguat
Adapun jadwal pembagian dividen interim tunai ADRO sebagai berikut, cum dividen di pasar reguler dan pasar negosiasi pada 29 Desember 2025. Cum dividen di pasar tunai pada 2 Januari 2026. Adapun pembayaran dividen dilaksanakan pada 15 Januari 2026.
Pembagian dividen interim ini didukung kinerja keuangan perseroan hingga kuartal III-2025. ADRO mencatat laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar US$ 301,59 juta. Saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya tercatat US$ 3,33 miliar dan total ekuitas senilai US$ 5,16 miliar.
Sebelumnya, BRI Danareksa Sekuritas dalam riset terakhirnya menempatkan saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) menjadi pilihan teratas dari sektor batu bara.
Baca Juga
Musim Dingin Mendekat, AADI & ADRO Jadi Saham Batu Bara Pilihan Utama
Dalam riset tersebut diungkapkan bahwa potensi kenaikan harga saham emiten batu bara dalam jangka pendek tetap terbuka menjelang musim dingin, sehingga saham AADI dan ADRO menjadi pilihan utama yang direkomendasikan beli dengan target harga masing-masing Rp 9.850 dan Rp 2.630.
Riset ini menyebutkan bahwa dana investor domestik tercatat mulai menunjukkan kenaikan pada saham emiten batu bara sejak Agustus 2025, sementara minat investor asing masih terbatas. Analis BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan mengatakan, permintaan batu bara global diprediksi tetap melemah hingga akhir 2025, namun demikian terbuka momentum penguatan harga menjelang musim dingin.
“Kondisi pasar tetap tertekan oleh melemahnya impor dari China dan India, serta tingginya level persediaan, sementara sisi pasokan Indonesia mulai menunjukkan pengetatan,” tulisnya.

