Bitcoin Stabil Pasca Pemangkasan Suku Bunga The Fed, Ini Faktor Penentunya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Harga Bitcoin (BTC) menunjukkan ketahanan yang solid dengan bertahan di atas level psikologis US$ 90.000 atau sekitar Rp 1,94 miliar, didorong oleh sinyal teknikal yang menguat serta respons pasar terhadap kebijakan pemangkasan suku bunga The Fed. Meski demikian, tekanan dari aksi ambil untung whale dan arus keluar ETF masih menjadi faktor pembatas kenaikan lanjutan.
Secara teknikal, grafik harian Bitcoin membentuk pola golden cross pada pergerakan MA5, MA10, dan MA30, yang memperkuat area support di kisaran US$ 90.500–US$ 91.300. Selain itu, indikator MACD histogram berbalik positif di +897,19, menandakan momentum bullish jangka pendek mulai terbentuk.
Level Fibonacci retracement 50% di US$ 92.978 kini menjadi titik krusial penentu arah selanjutnya. Jika Bitcoin mampu mencatatkan penutupan harga yang konsisten di atas US$ 94.140, maka peluang kenaikan menuju US$98.000 semakin terbuka. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan support US$ 90.500 berisiko membawa harga turun ke area US$ 85.900.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai sinyal teknikal saat ini memberikan fondasi positif bagi pergerakan harga Bitcoin. “Golden cross pada time frame harian biasanya menjadi sinyal awal kelanjutan tren naik. Selama Bitcoin mampu bertahan di atas zona US$90.000, struktur teknikalnya masih tergolong sehat dan membuka peluang penguatan lanjutan,” ujarnya dalam risetnya, Jumat (12/12/2025).
Baca Juga
Harga Bitcoin Turun ke US$ 90.000-an Pasca Pemangkasan Suku Bunga The Fed
Dari sisi institusional, pergerakan dana pada Bitcoin spot ETF menunjukkan sinyal yang beragam. Pada 11 Desember, tercatat net outflow sebesar US$ 77,34 juta, dipicu oleh arus keluar besar dari Fidelity senilai US$ 104 juta. Namun, hal ini sebagian diimbangi oleh inflow US$ 76,7 juta ke BlackRock IBIT, yang mencerminkan minat institusi tertentu masih tetap kuat.
Menurut Fyqieh, dinamika ini menandakan pasar institusional belum sepenuhnya keluar dari Bitcoin. “Masuknya dana ke BlackRock IBIT menunjukkan bahwa investor institusional besar masih melihat Bitcoin sebagai aset strategis jangka menengah hingga panjang. Namun, perbedaan arus antar penerbit ETF berpotensi meningkatkan volatilitas harga dalam jangka pendek,” jelasnya.
Di sisi on-chain, terjadi tarik-menarik antara pelaku pasar besar. Data menunjukkan miner publik menambah kepemilikan hingga 10.800 BTC sepanjang November, mengindikasikan keyakinan bahwa harga di sekitar US$90.000 masih tergolong undervalued.
Sebaliknya, kelompok whale dengan kepemilikan 10.000–100.000 BTC tercatat melepas sekitar 36.500 BTC senilai US$ 3,4 miliar sejak awal Desember, terutama di dekat area resistance US$ 94.000.
“Akumulasi miner mencerminkan optimisme fundamental, sementara distribusi whale di dekat resistance adalah pola klasik profit-taking. Selama belum ada penembusan kuat di atas US$ 94.000, pergerakan harga cenderung sideways dengan volatilitas tinggi,” kata Fyqieh.
Penurunan cadangan stablecoin hingga sekitar 50% sejak Agustus juga menandakan likuiditas pasar yang menipis, sehingga setiap breakout berpotensi memicu pergerakan harga yang tajam.
Baca Juga
Standard Chartered Revisi ke Bawah Target Harga Bitcoin, Jadi Berapa?
Suku Bunga The Fed
Rebound Bitcoin juga terjadi seiring pemangkasan suku bunga ketiga The Fed tahun ini, meski pergerakan awal pasar sempat mengikuti pola “buy the rumor, sell the news”. Secara historis, fase konsolidasi pasca pemangkasan suku bunga sering diikuti oleh rebound yang lebih besar setelah tekanan jual mereda.
Fyqieh menambahkan bahwa kebijakan suku bunga yang lebih rendah tetap menjadi katalis positif bagi aset berisiko seperti kripto. “Dalam jangka panjang, penurunan suku bunga meningkatkan selera risiko dan aliran modal ke aset alternatif seperti Bitcoin. Selama sentimen makro tetap kondusif, potensi reli lanjutan masih terbuka,” ujarnya.
Ketahanan Bitcoin di atas US$90.000 mencerminkan kombinasi antara kekuatan teknikal dan minat institusional yang selektif, meski masih dibayangi aksi ambil untung whale dan arus keluar ETF. Rentang US$90.000–US$94.000 menjadi area krusial yang akan menentukan arah pergerakan selanjutnya.
Pasar kini menanti apakah Bitcoin mampu mencatatkan penutupan harga di atas US$ 94.140 untuk memicu short squeeze dan reli lanjutan, atau justru kembali tertekan akibat distribusi whale dan melemahnya likuiditas. Investor disarankan untuk mencermati volume perdagangan intraday sebagai konfirmasi arah tren berikutnya.

