Pintu Ungkap Rahasia di Balik Pergerakan Harga Kripto
Poin Penting
| ● | Aset kripto bersifat global sehingga pergerakannya sangat dipengaruhi kondisi ekonomi negara besar: AS, China, dan India. |
| ● | Suku bunga AS adalah metriks terpenting dalam menentukan arah harga Bitcoin dan aset kripto lain. |
| ● | Dalam waktu dekat, pasar menunggu keputusan The Fed. |
JAKARTA, investortrust.id - PT Pintu Kemana Saja (Pintu) menyatakan bahwa perekonomian global memiliki pengaruh signifikan terhadap harga kripto, terutama perekonomian negara-negara besar seperti China dan Amerika Serikat (AS), termasuk India.
Hal itu diungkapkan Chief Marketing Officer (CMO) - Marketing & Community PINTU Timothius Martin dalam acara Investortrust Goes To Campus bertajuk Kripto Untuk Mahasiswa: "Melek Ilmu Cuan Mengalir" di Binus University, Jakarta, Rabu (3/12/2025).
"Kripto pada dasarnya adalah salah satu aset yang sifatnya global. Jadi, suka atau tidak suka, pergerakan dari aset global itu dipengaruhi oleh perekonomian terbesar di dunia, ada China, AS, dan India," ujar Timothius.
Timothius menjelaskan, pergerakan aset kripto sangat dipengaruhi kondisi ekonomi global, khususnya kebijakan moneter AS. Menurut Timothius, meskipun banyak negara memiliki peran dalam ekonomi dunia, suku bunga AS adalah faktor paling menentukan.
Baca Juga
Dinamika kripto termasuk Bitcoin tidak bisa dilepaskan dari kebijakan dan peristiwa ekonomi yang terjadi di AS. Penurunan suku bunga The Fed disebutnya sebagai momentum yang sering memicu kenaikan pasar kripto.
"Jadi mau tidak mau kita harus melihat pandangannya ke AS. Banyak sekali event-event ekonomi yang terjadi di AS itu sangat mempengaruhi harga Bitcoin atau harga kripto lainnya. Dan mungkin hanya satu metriks saja yang perlu kita lihat sih dari banyak sekali metriks yang perekonomian makro dunia dan especially yang fokusnya ke AS, tapi ada satu yang paling penting, itu adalah suku bunganya AS," ungkap Timothius.
Lebih lanjut, Timothius menyebut, saat ini suku bunga AS berada pada tingkat yang relatif tinggi dibandingkan dengan beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, suku bunga AS sempat menyentuh 0% pada saat Covid-19.
Hal ini membuat investor cenderung menyimpan uang di bank karena return yang lebih stabil dan aman. Dengan suku bunga yang tinggi, investor dapat memperoleh return yang lebih tinggi dari deposito bank, sehingga mengurangi minat untuk berinvestasi pada aset-aset berisiko seperti kripto.
"Nah kalau suku bunganya tinggi, artinya uang-uangnya orang Amerika itu bakal dia taruh di bank, kenapa?. Karena suku bunganya tinggi dan aman, jadi setiap tahunnya dapet 2-3% itu sudah tinggi sekali gitu ya," ucap Timothius.
Baca Juga
PINTU dan Blockvest Perkuat Literasi AI dan Blockchain bagi Mahasiswa Universitas Pembangunan Jaya
Namun, ketika suku bunga AS diturunkan, aset-aset berisiko seperti saham dan Bitcoin cenderung naik. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya likuiditas dan sentimen investor yang lebih positif terhadap aset-aset berisiko. Investor yang mencari return yang lebih tinggi akan lebih cenderung untuk berinvestasi pada aset-aset berisiko seperti kripto ketika suku bunga rendah.
"Nah makanya biasanya sewaktu suku bunganya itu diturunin, yang kita mungkin akan tau beberapa hari lagi nih ya, nah sewaktu mulai suku bunganya diturunin biasanya aset-aset dengan resiko yang lebih tinggi seperti saham dan Bitcoin itu akan naik. Biasanya. Rabu depan ya, biasanya akan naik gitu. Itu satu faktor yang paling penting yang perlu kita lihat secara makro ekonomi. Karena sewaktu suku bunganya tinggi buat apa kita berisiko gitu kan," jelas Timothius.
Dalam beberapa hari ke depan, investor akan menantikan keputusan The Fed terkait suku bunga AS. Jika suku bunga diturunkan, maka aset-aset berisiko seperti kripto dapat mengalami kenaikan yang signifikan. Oleh karena itu, investor perlu memantau perkembangan suku bunga AS untuk memahami potensi pergerakan harga kripto dan membuat keputusan investasi yang lebih bijak.
"Jadi pandangan aku saat ini Amerika sedang di saat tahap akhir dia menaikan atau menahan suku bunga. Kedepannya akan diturunkan dan itu mungkin banyak orang yang bilang 2026 akan bearish, tapi aku masih ada sedikit optimisme," pungkas Timothius.

