Garap Pengolahan Mineral Nikel, United Tractors (UNTR) Dirikan Anak Usaha Ini
JAKARTA, investortrust.id – PT United Tractors Tbk (UNTR) mendiversifikasi bisnis ke bidang industri pembuatan logam dasar bukan besi serta perdagangan besar logam dan bijih logam. Diversifikasi dilakukan melalui pendirian PT Nusantara Industri Nikel Lestari (NINL).
Corcec UNTR Ari Setiyawan melalui penjelasan resminya di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (3/12/2025), menyebutkan bahwa NINL dibentuk melalui dua entitas yang 100% dimiliki UNTR, yaitu PT Danusa Tambang Nusantara (DTN) dan PT Energia Prima Nusantara (EPN). “Pendirian sebagai langkah strategis memasuki sektor jasa dan pengolahan mineral nikel,” tulis pengumuman resminya.
Baca Juga
Siapkan Dana Rp 2 Triliun, United Tractors (UNTR) akan Buy Back Saham
Pendirian NINL, terang manajemen, bagian dari strategi grup United Tractors untuk memperluas portofolio usaha, terutama di industri logam dasar dan perdagangan besar logam. Ekspansi ini diharapkan memperkuat posisi UNTR di rantai pasok industri nikel yang terus mengalami kenaikan permintaan, seiring berkembangnya ekosistem kendaraan listrik dan kebutuhan energi ramah lingkungan.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset terakhirnya mempertahankan rekomendasi beli saham UNTR tetap dipertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 32.200, meskipun target penjualan untuk tahun fiskal 2025 direvisi turun. Target harga kuat tersebut mencerminkan prospek kuat kinerja tahun 2026.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan & Kafi Ananta dalam riset belum lam ini menyebutkan bahwa UNTR tengah menatap prospek positif pada 2026, terutama didukung penjualan alat berat, segmen pertambangan, dan logam. “Strategi diversifikasi UNTR di emas, nikel, dan coal contracting memberikan potensi pertumbuhan jangka menengah yang menjanjikan,” tulisnya.
Baca Juga
Terkait tahun ini, BRI Danareksa Sekuritas berdasarkan earning call yang digelar UNTR baru-baru ini terungkapkan revisi turun target penjualan alat berat Komatsu dari semula 4.500 unit menjadi 4.400 unit pada 2025. Pemangkasan dipicu pelemahan permintaan dari sektor pertambangan batu bara. Sedangkan penjualan tahun depan diprediksi meningkat menjadi 4.500 dengan asumsi harga batu bara pulih.
Sedangkan segmen usaha kontraktor pertambangan (mining contracting) diprediksi merealisasikan 0verburden (OB) 1,13–1,18 miliar bcm tahun ini. Tahun 2026, OB diprediksi stabil cenderung anik didukung kontrak penuh Vale dan efisiensi biaya.
Segmen pertambangan batubara diprediksi menjual sebanyak 11,8 juta ton batu bara thermal. Volume penjualan diprediksi kembali meningkat menjadi 15,6 juta ton dengan 35% met coal. Lompatan didukung fasilitas pelabuhan baru.

