Dana Rights Issue Masuk, Saham COCO Disebut Bersiap Menuju Rp 600
JAKARTA, investortrust.id – Harga saham PT Wahana Interfood Nusanatara Tbk (COCO) disebut bakal merangkak naik menuju level Rp 600 setelah menuntaskan penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue bulan lalu.
COCO sebelumnya menuntaskan rights issue kedua dengan perolehan dana lebih dari Rp 266 miliar. Mahogany Global Investment Pte Ltd (Mahogany) sebagai pemegang saham pengendali COCO akan melaksanakan seluruh hak yang dimilikinya pada PMHMETD II, sehingga total saham yang dikuasainya tetap berada di atas 51%.
Baca Juga
Wahana Interfood (COCO) Diversifikasi ke Produk Turunan Kakao, Operasional Mulai Kuartal IV 2026
Seorang sumber menyebutkan bahwa dengan masuknya dana Rp 266 miliar dari rights issue, prospek kinerja keuangan COCO makin membaik. Apalagi dana perolehan digunakan untuk peningkatan aktivitas produksi, seperti belanja modal hingga modal kerja. Langkah agresif perseroan untuk memperkuat kinerja operasional akan berdampak terhadap peluang kenaikan harga saham COCO dengan target harga menuju level Rp 600 dalam waktu dekat.
Tak hanya itu, menurut dia, secara teknikal, volume dan nilai transaksi saham COCO menunjukkan peningkatan pesat setelah rights issue. Dalam 20 hari transaksi turnover saham mencapai Rp 2,6 triliun. Pola pergerakan juga cenderung menguat, meski dalam sepekan terakhir menunjukkan pergerakan mendatar.
Baca Juga
Industri Kakao Menguat, Kinerja Wahana Interfood (COCO) Mulai Pulih di Kuartal III 2025
Peluang penguatan saham COCO juga didukung langkah strategis perseroan mendiversifikasi produk turunan kakao, seperti cocoa butter, cocoa cake, cocoa powder, dan cocoa mass. Langkah ini merupakan bagian dari strategi ekspansi perusahaan untuk memperluas pasokan kakao sekaligus memperkuat daya saing di pasar global. Aksi ini akan turut mengerek naik kinerja keuangan perseroan.
Adapun dana yang terhimpun dari rights issue akan digunakan COCO senilai Rp 85 miliar belanja modal pembelian mesin, peralatan, sistem teknologi informasi, serta fasilitas pendukung atas mesin dan peralatan tersebut. Sisanya akan digunakan untuk modal kerja perseroan, seperti pembelian bahan baku baik untuk produk midstream dan downstream, biaya tenaga kerja, dan lainnya.

