Saham Sumber Alfaria (AMRT) Direkomendasi Beli Saat Laba Turun, Begini Perhitungannya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) masih direkomendasikan beli oleh Mirae Asset Sekuritas Indonesia dengan potensi kenaikan lebih dari 40%, meski kinerja laba bersih mengalami penurunan pada kuartal III-2025.
Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun tipis 3,49% (yoy) menjadi Rp 2,31 triliun, sementara pendapatan bersih justru naik 7,1% (yoy) menjadi Rp 94,47 triliun.
Baca Juga
Usai Filipina, Alfamart (AMRT) Bersiap Serbu Bangladesh dan Malaysia
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Abyan Habib Yuntoharjo menjelaskan margin laba bersih menyempit menjadi 1,4% karena meningkatnya biaya pengembangan pusat distribusi (distribution center/DC) baru. “Laba AMRT pada kuartal ketiga 2025 mencapai Rp 2,3 triliun, turun 3,5% (yoy) dengan margin 2,5%, mencerminkan tekanan jangka pendek dari pengeluaran ekspansi,” tulis Abyan dalam risetnya, Rabu (12/11/2025).
Meski demikian, pendapatan AMRT tetap tumbuh stabil di tengah lemahnya daya beli masyarakat. Pada Juli–September 2025, pendapatan mencapai Rp 30,7 triliun, naik 5,7% (yoy), didorong ekspansi di luar Jawa sebesar 13,1% (yoy) yang kini menyumbang 39,7% dari total pendapatan. Wilayah Jakarta mencatat pemulihan 3,7% (QoQ), namun stagnan secara tahunan akibat kejenuhan pasar dan penurunan belanja diskresioner.
Dalam sembilan bulan pertama 2025, same store sales growth (SSG) naik 2,3%, sejalan dengan proyeksi tahunan Mirae Asset Sekuritas.
“Meskipun permintaan minimarket masih lemah, jaringan luas dan eksposur AMRT di luar Jawa terus mendukung pertumbuhan di atas industri,” ujar Abyan.
Baca Juga
Alfamart (AMRT) Yakin Pertumbuhan Ritel Tahun Ini, Peluang Didukung Hal Ini
Secara kuartalan, laba kotor Sumber Alfaria turun 7,3% dengan gross profit margin (GPM) 20,6%, lebih rendah dari 22% pada kuartal II-2025, dipengaruhi bauran produk yang kurang menguntungkan. “Penjualan barang kebutuhan pokok mendominasi dibandingkan produk RTD bermargin lebih tinggi,” jelasnya.
Namun, secara kumulatif, laba kotor AMRT naik 7,6% (yoy) menjadi Rp 20,3 triliun dengan margin stabil di 21,5%. Meski penjualan RTD dan rokok turun sekitar 11% (yoy), kedua produk tersebut tetap menjadi kontributor utama margin keuntungan perusahaan.
Penurunan Laba
Laba operasional AMRT turun 24,8% (yoy) menjadi Rp 592 miliar pada Juli–September 2025, dengan margin menyempit ke 1,9%. Penurunan ini disebabkan kenaikan biaya gaji 10,1% (yoy), biaya sewa 8,8% (yoy), dan biaya distribusi 17,1% (yoy) akibat pembukaan DC baru di Bengkulu dan Palangkaraya.
Secara kumulatif, laba operasional mencapai Rp 2,96 triliun, turun 4,7% (yoy) dengan margin 3,1%. Meski ekspansi membebani laba jangka pendek, investasi ini dinilai akan meningkatkan efisiensi dan kapasitas logistik. “Leverage operasional akan membaik dalam 6–8 kuartal ke depan, mendukung normalisasi margin di atas 3%,” kata Abyan.
Baca Juga
Alfamart (AMRT) Bidik Pendirian 1.000 Gerai di Tahun 2025, Siapkan Capex hingga Rp 5 Triliun
Mirae Asset Sekuritas menurunkan perkiraan laba per saham (EPS) AMRT tahun fiskal 2025 dan 2026 masing-masing sebesar 16,7% dan 13% dari proyeksi sebelumnya, seiring lambatnya optimalisasi DC baru. Meski demikian, rekomendasi saham ditingkatkan menjadi beli dengan target harga Rp 2.600 berdasarkan proyeksi kinerja 2026. “Setelah koreksi harga saham baru-baru ini, sebagian besar risiko sudah tercermin, menyisakan potensi kenaikan lebih dari 40%,” tegas Abyan.
Mirae Asset Sekuritas menilai biaya ekspansi hanya menekan margin sementara waktu. Dalam jangka panjang, strategi ini justru akan memperkuat posisi AMRT di pasar ritel nasional. “AMRT tetap menjadi proksi utama pemulihan konsumsi Indonesia berkat posisi dominan dan model bisnis yang tangguh,” pungkasnya.

