Bagikan

Laba dan Dividen Bukit Asam Diprediksi Turun, Saham PTBA Direkomendasi Jual 

Poin Penting

Mirae Asset turunkan rekomendasi saham PTBA jadi jual dengan target Rp2.000.
Laba bersih dan dividen PTBA diprediksi turun hingga 2027 akibat tekanan biaya.
Produksi stabil, tapi margin dan pendapatan PTBA terus tertekan karena harga batu bara turun.

JAKARTA, investortrust.id Laba bersih hingga porsi dividen PT Bukit Asam Tbk (PTBA) diprediksi turun dan stagnan hingga dua tahun ke depan. Hal ini mendorong Mirae Asset Sekuritas Indonesia menurunkan peringkat (downgrade) saham PTBA menjadi sell atau jual.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Farras Farhan dalam riset yang dipublikasi pada Jumat (7/11/2025) menjelaskan Bukit Asam menghadapi prospek yang menantang dengan kompresi margin dan pertumbuhan pendapatan yang stagnan. 

Produksi batu bara PTBA diperkirakan akan tetap stabil di kisaran 50-53 juta ton hingga 2026. Sementara harga jual rata-rata (ASP) terus menurun, dari US$ 61 per ton pada kuartal III-2024 menjadi US$ 54 per ton pada kuartal III-2025. 

Kemudian, rasio pengupasan yang berkelanjutan sebesar 6x menambah tekanan biaya lebih lanjut.

“Meskipun manajemen telah melakukan upaya optimalisasi biaya, seperti menegosiasikan ulang biaya kontraktor pertambangan dan menyesuaikan mekanisme penetapan harga, inisiatif-inisiatif ini kemungkinan hanya akan berdampak minimal. Mengingat, harga bahan bakar yang tinggi dan pertumbuhan volume yang stagnan,” papar Farras.

Dengan biaya tunai yang tinggi dan potensi keuntungan yang terbatas dari upaya diversifikasi, profil risiko-imbalan PTBA dinilai tetap bearish. Meski produksi stabil sebesar 50–53 juta ton per tahun, pendapatan perseroan diperkirakan turun menjadi Rp 40,34 triliun pada tahun 2025 dan stagnan hingga 2027. 

“Metrik profitabilitas utama, termasuk GPM (gross profit margin) dan EBITDA, diproyeksikan akan menyusut karena tekanan biaya yang terus-menerus, dengan  NPM (net profit margin) turun dari 15,9% pada 2023 menjadi 5,9% pada 2027,” sambung Farras.

Laba bersih Bukit Asam diperkirakan akan turun secara signifikan, sementara arus kas bebas dan dividen diprediksi ikut menurun dan berpotensi stagnan seiring dengan stagnannya laba. Meskipun ada inisiatif pemangkasan biaya, potensi pertumbuhan jangka panjang PTBA masih terbatas, memperkuat sentimen bearish.

“Kami menurunkan peringkat PTBA menjadi jual dan menetapkan target harga baru sebesar Rp 2.000 atau 9,6x P/E pada 2025, yang mencerminkan potensi kenaikan yang terbatas,” tegas Farras.

Baca Juga

Meski Harga Batu Bara Turun, Bukit Asam (PTBA) Sukses Dongkrak Pendapatan ke Rp 31,3 Triliun  

PTBA telah berkinerja di bawah IHSG sebesar -30,9% sejak awal tahun (ytd) dan menghadapi prospek yang stagnan, dengan produksi dan penjualan yang datar diperkirakan akan terjadi pada 2026.

“PTBA juga diperdagangkan dengan premi 44% dibandingkan perusahaan sejenis, dengan dividen yang pas-pasan, sehingga kurang menarik bagi investor dividen. Risiko kenaikannya termasuk rebound harga batu bara 50% dan upaya diversifikasi yang berhasil,” ucap Farras.

Meski begitu, anak perusahaan utama MIND ID tersebut mengoperasikan cadangan batu bara terbesar di Asia Tenggara, terutama di Tanjung Enim. 

Dikenal karena logistiknya yang terintegrasi dengan kereta api milik negara, PTBA menawarkan pasokan batu bara yang stabil dan berbiaya rendah untuk utilitas domestik maupun pasar regional utama.

“Dengan struktur biaya yang kuat, rasio pengupasan yang rendah, dan kontrak jangka panjang yang stabil, PTBA tetap menjadi pemain yang tangguh dan relevan dengan kebijakan di sektor batu bara Indonesia,” menurut Farras.

Perseroan juga dinilai fokus pada ketahanan margin daripada pertumbuhan volume.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024