Meski Harga Batu Bara Turun, Bukit Asam (PTBA) Sukses Dongkrak Pendapatan ke Rp 31,3 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) berhasil mempertahankan peningkatan penjualan sebanyak 2% menjadi Rp 31,3 triliun hingga kuartal III-2025. Kenaikan tersebut terdorong peningkatan volume penjualan, meskipun rata-rata harga jual batu bara turun.
Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis Kamis (30/10/2025), PTBA mencatat pendapatan sebesar Rp 31,3 triliun, naik tipis 2% secara tahunan (year-on-year). Meskipun volume penjualan meningkat 8%, pelemahan harga batu bara global menekan kinerja keuangan perseroan. Harga acuan Newcastle Index turun 22% dan ICI-3 turun 16%, sehingga harga jual rata-rata (ASP) ikut terkoreksi 6%.
Baca Juga
Dukung Swasembada Pangan, Bukit Asam (PTBA) Ubah Batu Bara Jadi Kalium Humat
Hingga akhir September 2025, penjualan domestik PTBA tercatat 56% dari total penjualan, sementara ekspor menyumbang 44%. Lima negara tujuan ekspor terbesar adalah Bangladesh, India, Filipina, Vietnam, dan Korea Selatan.
“Di tengah tekanan harga batu bara global yang menurun sepanjang 2025, PTBA berhasil mempertahankan kinerja operasional yang solid serta menjaga profitabilitas melalui efisiensi biaya dan optimalisasi pasar domestik,” ujar Direktur Utama PTBA Arsal Ismail, dalam keterangan resmi, Kamis (30/10/2025).
Ia menambahkan, capaian tersebut tercermin dari pertumbuhan volume produksi dan penjualan yang tetap positif, serta realisasi belanja modal (capex) yang mendukung keberlanjutan operasi dan proyek logistik strategis perseroan.
Baca Juga
Net Buy Berlanjut Rp 784,98 Miliar, Investor Asing Borong BMRI dan BBCA
Dari sisi biaya, beban pokok pendapatan terealisasi sebesar Rp 27,8 triliun, naik 11% secara tahunan. Peningkatan ini sejalan dengan kenaikan volume produksi batu bara sebesar 9% dan volume angkutan 8%, meski stripping ratio menurun menjadi 5,98x dibanding 6,02x pada periode yang sama tahun lalu.
Faktor lain yang menekan profitabilitas adalah pencabutan subsidi komponen FAME pada biodiesel serta kewajiban penggunaan B40, yang berdampak pada kenaikan harga BBM sekitar 8% secara tahunan. Kenaikan harga bahan bakar tersebut turut meningkatkan biaya operasional tambang dan angkutan kereta api.
Secara tahunan, beban umum dan administrasi naik sebesar Rp 52,4 miliar atau 4%, sementara beban penjualan turun 1% atau senilai Rp 7,1 miliar. Sejumlah factor tersebut memicu laba Bukit Asam (PTBA) turun 57% menjadi Rp 1,4 triliun sampai kuartal III-2025.

