Rotasi ke Saham Fundamental Berlangsung, Investor Kembali Lirik LQ45
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Arah pergerakan pasar saham mulai menunjukkan perubahan setelah periode panjang saham-saham yang didorong spekulasi dan katalis aksi korporasi mendominasi, investor kini mulai kembali berfokus pada emiten dengan fundamental yang solid. Minat tinggi pemodal tersebut menjadikan indeks LQ45 mendadak melesat pada perdagangan pekan.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), kenaikan indeks LQ45 mencapai 7,22% sepanjang pekan lalu atau periode 20-24 Oktober. Kenaikan tersebut jauh melampaui penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) BEI pekan sama sebanyak 4,50%. Penyumbang utama LQ45 tersebut datang dari kenaikan saham-saham big cap, khususnya bank besar BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Begitu juga TLKM, ASII, hingga UNVR.
Baca Juga
Investor Reposisi Portofolio, Saham Fundamental Kokoh kembali Jadi Incaran
Pengamat Pasar Modal Indonesia Reydi Octa mengatakan, rotasi menuju saham berfundamental kuat semakin terlihat di tengah dinamika pasar yang bergerak lebih rasional dalam beberapa pekan terakhir. “Rotasi ke saham-saham fundamental memang mulai terlihat. Setelah periode saham minim fundamental, spekulasi, dan katalis aksi korporasi mendominasi, investor mulai mencermati kembali emiten yang berkinerja solid, valuasi rasional, dan likuiditas tinggi,” ujar Reydi kepada investortrust.id, di Jakarta Senin (27/10/2025).
Dia mencatat, tren tersebut tercermin dari kinerja indeks LQ45 yang menguat 7,22% sepanjang pekan lalu atau melampaui kenaikan IHSG sebanyak 4,5%. Sektor perbankan, telekomunikasi, dan komoditas menjadi tujuan utama aliran dana tersebut. “Ini menandakan investor mulai kembali ke saham perbankan, telekomunikasi, dan komoditas yang besar di IHSG,” jelasnya.
Reydi menilai momentum rotasi ini berpotensi berlanjut hingga akhir tahun, ditopang ekspektasi penurunan suku bunga Bank Indonesia dan aliran dana asing yang mulai kembali masuk. Menjelang momentum window dressing, ia merekomendasikan sejumlah saham seperti BBRI, BMRI, BBCA, MDKA, ANTM, dan TLKM.
Pandangan senada juga diungkapkan Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan. Menurut dia, IHSG berpeluang menguji level 8.400 dalam jangka pendek dengan support di 8.150. Menurutnya, musim laporan keuangan emiten atau earning season menjadi katalis utama arah pasar pekan ini. Investor dinilai mulai memburu saham-saham emiten dengan fundamental kuat.
Baca Juga
Saat IHSG Ditutup Anjlok 1,87%, Lima Saham Dipimpin BBRC Justru ARA
“Earning season kali ini akan menjadi penentu arah pasar berikutnya. Para trader wajib menyimak laporan keuangan yang rilis dalam 1–2 pekan ke depan dan memanfaatkan momentum jika harga terapresiasi signifikan,” ujar David.
Terkait saham pilihan, dia mengatakan, sektor perbankan, infrastruktur, dan komoditas berpotensi menjadi penggerak utama pasar. Beberapa saham yang masuk dalam LQ45 berikut layak dipertahankan beli didukung valuasi yang sudah murah, seperti KLBF dengan target Rp 1.325 didukung kinerja stabil, valuasi P/E rendah, dan secara teknikal mulai uptrend.
CPIN direkomendasikan beli dengan target harga Rp 5.500 diidukung program MBG yang mendorong konsumsi dan potensi pertumbuhan EPS double digit. Begitu juga dengan sahamAKRA direkomendasikan beli dengan target harga Rp 1.300 didukung sentimen tensi geopolitik dan keberhasilan perseroan mencatatkan kenaikan laba lebih dari 12% pada kuartal III-2025.
LQ45 Rebound
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pergeraekan harga saham indeks LQ45 mulai menunjukkan resilensi dalam dua pekan terakhir. Bahkan, sepanjang pekan lalu atau 20-24 Oktober, indeks LQ45 melesat 7,22%. Kenaikan tersebut jauh melampaui penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) BEI pekan sama sebanyak 4,50%.
Tren perbaikan pergerakan juga ternyata sudah mulai terlihat pada pekan sebelumnya atau periode 13-17 Oktober 2025. Saat IHSG anjlok sebanyak 4,14%, indeks LQ45 terpantau tahan banting dengan penurunan hanya 2,68%. Bahkan, beberapa saham LQ45 pekan tersebut mulai menunjukkan penguatan pesat.
Baca Juga
Didukung Fundamental Kuat dan Katalis Positif, Investor Global Naikkan Target Harga Saham BBRI
Meski demikian indeks LQ45 masih menunjukkan penurunan sebanyak 12,38% sepanjang satu tahun berjalan. Penurunan tersebut kontras berbanding terbalik dengan IHSG BEI yang justru mencatatkan penguatan lebih dari 5,54% sepanjang periode sama. Tradingview juga mengungkap bahwa kenaikan indeks LQ45 baru mencapai 3,63% dalam lima tahun terakhir. Angka tersebut jauh di bawah kenaikan IHSG lebih dari 57% untuk periode sama.
Sedangkan berdasarkan Datatrust, anggota saham LQ45 dengan kenaikan tertinggi sepanjang year to date (ytd) dicatatkan BRPT mencapai 244% menjadi Rp 3.190. Disusul ANTM dengan kenaikan 105% menjadi Rp 3.150, SCMA naik 95% menjadi Rp 320, UNVR melesat 45,3% menjadi Rp 2.760, dan PGEO naik 34,4% menjadi Rp 1.270.

