Timpangnya Kinerja Saham Unggulan di LQ45 Saat IHSG Melaju Pesat
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam hampir dua dekade terakhir menunjukkan tren yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan performa indeks LQ45, yang berisi 45 saham paling likuid dan berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Berdasarkan data yang dioleh DataTrust hingga 17 Oktober 2025, IHSG mencatat kenaikan luar biasa sebesar 610% sejak 2006, sementara LQ45 hanya naik sekitar 212%.
Perbedaan ini menandai fenomena menarik bahwa saham-saham unggulan ternyata tidak selalu menjadi pendorong utama pertumbuhan pasar saham secara keseluruhan.
Kinerja IHSG yang melesat lebih tinggi menunjukkan bahwa kekuatan pasar tidak hanya bertumpu pada saham berkapitalisasi besar, tetapi juga pada kontribusi saham-saham menengah dan kecil yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi.
Dalam beberapa tahun terakhir, terutama pasca-pandemi, banyak saham lapis dua dan tiga yang justru mencatatkan kenaikan signifikan seiring dengan meningkatnya partisipasi investor ritel di pasar modal. Fenomena ini menggeser dominasi saham-saham blue chip yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai barometer utama kinerja pasar.
Direktur Panin Asset Manajemen Rudiyanto dalam satu kesempatan sempat mengemukakan bahwa saham-saham penghuni LQ 45 selama ini menjadi pilihan favorit para pemilik modal asing. Nah ketika mereka hengkang saat pandemi misalnya, maka pasar saham ‘dikuasai’ oleh para pemodal ritel lokal yang jauh lebih menyukai saham-saham lapis kedua, atau bahkan lapis ketiga.
Baca Juga
IHSG Berpotensi “Rebound”, Kiwoom Sekuritas Pertahankan Target 8.000 di Akhir Tahun
Perbedaan pola pergerakan terlihat jelas selama periode volatilitas tinggi, seperti krisis global 2008, gejolak harga komoditas 2015, dan pandemi COVID-19 pada 2020. IHSG memang sempat terkoreksi tajam, tetapi berhasil pulih lebih cepat dan mencatat tren kenaikan jangka panjang yang stabil.
Sebaliknya, indeks LQ45 tampak kesulitan mempertahankan momentum, bahkan cenderung stagnan sejak 2018, sebuah fenomena yang menggambarkan perubahan preferensi investor.
Sejatinya gerak linear antara IHSG dan LQ 45 mulai berakhir di periode Mei 2009. Pada 29 Mei 2009 misalnya, LQ 45 masih mampu mengimbangi pertumbuhan IHSG yang kala itu bertumbuh 65%. Sementara performa LQ 45 hanya terpaut sekitar 20% di bawah IHSG, yakni bertumbuh 47% jika dibandingkan dengan posisi tahun 2006.
Namun memasuki akhir tahun yang sama, pada 30 Desember 2009, rentang perbedaan kinerja antara IHSG dan LQ45 makin menjauh. Pada penutupan perdagangan akhir tahun 2009, IHSG mampu bertumbuh 229% sementara LQ45 hanya mampu terkerek sebesar 165%.
Berikutnya pada awal status pandemi Covid-19 diumumkan di Tanah Air pada awal Maret 2020, rentang perbedaan kinerja IHSG dan LQ45 makin jauh. Sebut saja pada 20 Maret 2020 ketika IHSG terperosok sangat dalam sehingga pertumbuhan pada tanggal tersebut kembali menciut menjadi hanya 261% dibanding tahun 2006, kinerja LQ45 justru lebih jeblok lagi, dengan hanya mencatatkan pertumbuhan 146% dibanding tahun 2006.
Kinerja yang tidak linear antara kedua indeks ini menandakan bahwa pasar saham Indonesia kini semakin terfragmentasi. Sementara IHSG diuntungkan oleh keragaman sektor dan meningkatnya peran emiten baru dari sektor teknologi, energi baru terbarukan, dan konsumer digital, banyak saham di LQ45 justru masih didominasi oleh perusahaan-perusahaan konvensional di sektor perbankan, tambang, dan properti yang kinerjanya lebih sensitif terhadap perubahan makroekonomi global.
Revisi berkala komposisi LQ45 yang mempertimbangkan likuiditas dan kapitalisasi pasar tampaknya belum sepenuhnya mampu mencerminkan dinamika pertumbuhan ekonomi baru. Beberapa emiten besar tetap mendominasi indeks meskipun performa sahamnya melemah.

