Pefindo Kuasai 83,17% Pemeringkatan Surat Utang Korporasi 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Pasar surat utang korporasi Indonesia sepanjang 2025 mencatat aktivitas penerbitan yang cukup tinggi dengan total nilai mencapai Rp 160 triliun hingga akhir kuartal ketiga. Dari total nilai tersebut, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menjadi lembaga pemeringkat yang paling dominan dengan penguasaan 83,17% dari seluruh penerbitan surat utang nasional.
Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo Suhindarto menjelaskan dalam paparan daring di Jakarta, Kamis (16/10/2025), bahwa mayoritas surat utang yang diterbitkan mendapat peringkat tunggal dari Pefindo.
“Dari surat utang yang sekitar Rp 160 triliun itu, Pefindo sendiri menguasai sekitar 83,17% dari total penerbitan tersebut. Sekitar 69,64% atau 70 persennya sendiri adalah single rating only dari Pefindo, sementara untuk dual rating ada sekitar 13,52 persen,” ujarnya.
Suhindarto merinci, sektor perbankan menjadi yang paling banyak menerima peringkat dari Pefindo dengan total Rp 27,8 triliun dari 9 perusahaan. Di posisi berikutnya ada pulp and paper dari 4 perusahaan dengan nilai Rp 25,1 triliun, kemudian pertambangan dari 10 perusahaan dengan total Rp 21 triliun.
Baca Juga
Pefindo: Penerbitan Surat Utang Korporasi Tembus Rp 160,1 Triliun, Tumbuh 68,65%
Sektor multifinance menyusul dengan Rp 16,9 triliun dari 11 perusahaan, sedangkan sektor pembiayaan non-multifinance menyumbang Rp 15,8 triliun dari 2 perusahaan.
Selain penerbitan yang telah terealisasi, Pefindo juga mencatat pipeline penerbitan surat utang yang masih menunggu proses listing. Total ada 45 perusahaan yang telah memberikan mandat pemeringkatan kepada Pefindo dengan nilai sekitar Rp 59 triliun hingga akhir kuartal ketiga 2025. Berdasarkan sektor, pipeline tersebut masih didominasi multifinance dan perbankan sebagai kontributor utama, disusul pulp and paper dengan sekitar Rp 7,88 triliun, holding company Rp 5,7 triliun, pertambangan Rp 4,9 triliun, properti Rp 3 triliun, serta konstruksi Rp 2,8 triliun.
Instrumen penerbitan dalam pipeline tersebut juga mayoritas berbentuk obligasi dan sukuk, baik melalui penawaran umum berkelanjutan (PUB) maupun non-PUB. Dari sisi jenis institusi, tahun ini penerbitan surat utang lebih banyak didominasi oleh non-BUMN, melampaui jumlah penerbitan dari BUMN, anak perusahaan BUMN, maupun BUMD. Suhindarto menyebut tren ini mencerminkan meningkatnya peran swasta dalam pembiayaan melalui pasar modal.

