IHSG Diproyeksikan Terkoreksi di Awal Pekan, Simak Saham-Saham yang Masih Menarik Dicermati
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pasar saham Indonesia diproyeksikan terkoreksi pada awal pekan ini, Senin (13/10/2025), seiring meningkatnya kembali ketegangan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Di tengah tekanan berbagai sentimen negatif, sejumlah saham masih menarik untuk dicermati.
Analis pasar modal yang juga Founder Republik Investor, Hendra Wardana memproyeksikan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terkoreksi, melanjutkan fase konsolidasi di kisaran support 8.200-8.222 dan resistance di level 8.272-8.300.
“Saham-saham berkapitalisasi besar, terutama di sektor perbankan dan konglomerasi yang memiliki porsi kepemilikan asing cukup besar, berpotensi mengalami tekanan jual lanjutan,” kata Hendra kepada investortrust.id, Minggu, (12/10/2025).
Baca Juga
IHSG Sepekan Melesat 1,72% hingga Cetak Rekor ATH, Saham Prajogo dan Haji Isam Motor Penggerak
Hendra menilai langkah Presiden AS Donald Trump menerapkan tarif impor terhadap produk China menjadi sinyal dimulainya kembali babak baru perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia. Trump secara mengejutkan mengumumkan penerapan kembali tarif impor hingga 100% terhadap berbagai produk asal China.
Tindakan Trump memicu sentimen negatif di pasar keuangan global. Kebijakan itu langsung mengguncang pasar keuangan global. Indeks Dow Jones ditutup anjlok 1,90%, S&P 500 turun tajam 2,71%, dan Nasdaq Composite merosot lebih dalam 3,56% pada perdagangan akhir pekan lalu.
“Aksi jual besar-besaran di Wall Street mencerminkan kekhawatiran investor meningkat terhadap perlambatan ekonomi global akibat potensi pembalasan dari pihak Beijing,” jelas dia.
Menurut Hendra Wardana, dampak gejolak tersebut hampir pasti terasa di kawasan Asia, termasuk Indonesia. Meski demikian, koreksi di pasar saham domestik tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.
“Dalam beberapa kali gejolak eksternal sebelumnya, pasar domestik terbukti cepat pulih karena faktor fundamental dalam negeri tetap solid,” tutur dia.
Baca Juga
IHSG Akhir Pekan Cetak Rekor 8.257, Banyak Saham Ini Cetak ARA
Biasanya, kata Hendra, tekanan jual akibat kepanikan global hanya bersifat sementara, dan justru membuka peluang untuk masuk kembali pada harga yang lebih menarik. “Jadi, investor bisa menerapkan strategi buy on weakness,” ujar dia.
Investor Asing Masih Percaya
Menariknya, menurut Hendra, di tengah meningkatnya ketidakpastian global, investor asing masih menunjukkan kepercayaan terhadap pasar Indonesia. Dalam sepekan terakhir, investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) di pasar saham sekitar Rp 3,21 triliun. Total pembelian asing mencapai Rp 37,75 triliun, sedangkan penjualan tercatat Rp 34,54 triliun.
“Pola ini menunjukkan investor global masih menaruh optimisme pada sektor-sektor domestik yang berorientasi konsumsi dan teknologi, meskipun tekanan jangka pendek masih membayangi,” tegas dia.
Hendra Wardana mengungkapkan, dari sisi ekonomi makro, Kementerian Keuangan memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2025 mencapai 5,1% (yoy), didorong perbaikan ekspor serta kinerja manufaktur yang tetap ekspansif. Pemerintah juga mempercepat realisasi belanja kementerian dan Lembaga (K/L) guna menjaga daya beli masyarakat, dengan target pertumbuhan 5,2% hingga akhir tahun.
Sementara itu, nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis 5 poin ke Rp 16.568 per dolar AS. Penguatan ini ditopang oleh risalah pertemuan The Federal Reserve (The Fed) yang menunjukkan peluang besar pemangkasan suku bunga lanjutan pada Oktober 2025.
Baca Juga
Saham FILM dan UANG Jadi Top Losers Mingguan, Meski IHSG Cetak Rekor Pekan Ini
“Stabilitas rupiah dan prospek ekonomi yang tetap positif menjadi bantalan penting bagi pasar saham Indonesia dalam menghadapi tekanan global,” ucap dia.
Meski IHSG berpotensi terkoreksi, Hendra Wardana menilai masih ada sejumlah saham menarik untuk trading jangka pendek maupun menengah. Ia merekomendasikan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) buy di level Rp 2.320 dengan target harga Rp 2.420-2.460.
Kemudian saham PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) direkomendasikan buy di level Rp 2.090 dengan target harga Rp 2.180-2.220. Lalu saham PT Wir Asia Tbk (WIRG) buy di Rp 136 dengan target Rp 141–144 dan saham PT Bekasi City Tbk (BKSL) direkomendasikan buy di level Rp 149 dengan target harga Rp 155-158.

