Prospek Sektor Unggas Cerah Jelang Akhir Tahun, CPIN Pilihan Utama Analis
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham emiten sektor peternakan atau poultry diproyeksikan positif menjelang akhir tahun ini. Sentimen pendukung juga datang dari keseimbangan suplai–permintaan yang semakin baik. Hal ini diprediksi membuat kinerja keuangan emiten unggas melonjak pada kuartal III-2025.
Ekspektais lompatan tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan oveweight prospek saham sektor peternakan unggas. Saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) direkomendasikan beli dan menjadi pilihan teratas. Dua saham lainnya juga direkomendasikan beli PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN).
Baca Juga
Analis BRI Danareksa Sekuritas Wilastita Muthia Sofi dan Victor Stefano dalam riset yang diterbitkan kemarin menyebutkan bahwa peluang pertumbuhan kuat kinerja keuangan emiten unggas juga ditopang kenaikan harga ayam hidup (livebird) dan anak ayam umur sehari (day old chick /DOC). Kenaikan tersebut mampu untuk mengimbangi harga beban pakan yang lebih tinggi.
Operasional yang lebih baik tersebut berpotensi menopang laba bersih Charoen Pokphand (CPIN) menjadi Rp 1,29 triliun hingga kuartal III-2025 atau tumbuh 257% qoq dan 110% yoy. Sementara itu, laba bersih JPFA diproyeksikan mencapai Rp 1,01 triliun (83% qoq, 65% yoy) dan Malindo (MAIN) diprediksi cetak laba Rp 141 miliar (110% yoy).
“Kinerja kuat tersebut ditopang oleh harga livebird yang naik ke Rp 20.100/kg (+20% qoq, +8% yoy) serta harga DOC mencapai Rp 5.700/ekor (+37% qoq, +6% yoy). Kenaikan ini diyakini mampu mengimbangi peningkatan biaya pakan yang berada di level Rp 6.700/kg (+5% qoq, +5% yoy),” tulis riset tersebut.
Baca Juga
Seskab Teddy Ungkap Prabowo Perintahkan Semua Dapur MBG Wajib Dilengkapi Test Kit
Meskipun harga ayam hidup diprediksi sedikit moderat setelah puncaknya pada September 2025 mencapai Rp 23.200/kg atau tertinggi dalam tiga tahun, BRI Danareksa Sekuritas menilai, harga tetap akan kuat pada kuartal IV. Faktor pendukungnya adalah pengurangan impor grand parent stock (GPS) tahun 2024, peningkatan belanja pemerintah, perluasan program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta momentum permintaan akhir tahun.
Program MBG diperkirakan mampu untuk menyerap 4,6–6,9% dari total produksi ayam bulanan nasional atau menjadi katalis utama sektor ini.
Terkait pergerakan harga, dia menyebutkan, indeks sektor poultry naik 11% dalam sebulan terakhir. Kenaikan dipimpin saham JPFA mencapai 23%. Meski terjadi arus keluar asing senilai Rp 110 miliar dari saham sektor ini pada September, jumlah tersebut jauh turun, dibanding Agustus mencapai Rp 518 miliar. “Potensi masuknya kembali dana asing pada kuartal akhir tahun dinilai dapat memperpanjang momentum penguatan sektor,” terangnya.
Baca Juga
Harga Minyak Anjlok Setelah Hamas-Israel Capai Kesepakatan Gencatan Senjata di Gaza
Berbagai katalis positif tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi overweight saham sektor poultry dengan prospek positif hingga akhir 2025. Saham JFPA direkomendasikan beli dengan target harga direvisi naik dari Rp 2.100 menjadi Rp 2.800.
Sedangkan saham CPIN tetap menjadi top pick dengan rekomendasi buy dan target harga Rp 6.800, mengingat valuasinya masih murah pada level -1,4SD dari rata-rata lima tahun. Saham MAIN juga direkomendasikan beli dengan target harga Rp 1.500.
Grafik Saham Peternakan Unggas

