Bakrie & Brothers (BNBR) Ambil Alih Penuh Tol Cimanggis-Cibitung dengan Nilai Transaksi Rp 3,5 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) lewat entitas anaknya, PT Bakrie Toll Indonesia (BTI) mengumumkan rencana untuk mengambil alih seluruh kepemilikan Jalan Tol Cimanggis-Cibitung dengan total nilai transaksi pengambilalihan mencapai Rp 3,5 triliun.
Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), saat ini ruas tol tersebut dikelola PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) dengan komposisi kepemilikan saham 55% dimiliki PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), 35% oleh Waskita Karya melalui PT Waskita Toll Road (WTR), 5% oleh BTI, serta 5% oleh BNBR.
“Perseroan memandang bahwa akuisisi CCT merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi di sektor infrastruktur nasional, khususnya jalan tol yang memiliki peran penting dalam mendukung konektivitas dan pertumbuhan ekonomi,” tulis Manajemen BNBR dalam keterangannya dikutip Jumat, (5/9/2025).
BTI berencana mengambil alih 90% saham CCT milik SMI 55% dan WTR 35% dengan nilai Rp 1 triliun. Selain itu, BTI juga akan mengakuisisi piutang SMI dan WTR kepada CCT senilai Rp 2,56 triliun, yang merupakan pinjaman pemegang saham. Dengan demikian, total nilai transaksi pengambilalihan mencapai Rp 3,5 triliun.
“Setelah rencana transaksi, kepemilikan saham perseroan pada CCT baik secara langsung maupun tidak langsung akan menjadi 100%,” jelasnya.
Baca Juga
BNBR Buka Suara Soal Akuisisi Saham Tol Cimanggis – Cibitung bernilai Rp 3,3 Triliun
Lebih lanjut, berdasarkan perjanjian pemegang saham, SMI, WTR, dan CCT telah menyepakati konversi tagihan pemegang saham menjadi saham CCT dengan harga Rp 1.000 per saham, selambat-lambatnya pada 5 Juli 2026. Konversi tersebut hanya berlaku untuk pokok utang, tidak termasuk bunga dan denda.
Sebagai tindak lanjut akuisisi, BTI juga menyiapkan sejumlah fasilitas pinjaman untuk mendukung kinerja CCT, terdiri dari bridging loan Rp 2,7 triliun, pinjaman pemegang saham convertible Rp 900 miliar, serta pinjaman operasional Rp 100 miliar.
Pendanaan tersebut bersumber dari fasilitas pinjaman yang diterima BTI dari PT Bakrie Indo Infrastructure (BIIN) sebesar US$ 312 juta atau sekitar Rp 5,14 triliun, adapun fasilitas ini difasilitasi oleh PT Ciptadana Sekuritas Asia.

