Erajaya (ERAA) Genjot Profitabilitas melalui Diversifikasi, Bagaimana Dampak ke Sahamnya?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) memperkuat strategi bisnisnya dengan melengkapi lini digital sebagai pilar utama dengan dua sektor tambahan, yakni active lifestyle dan makanan & minuman (F&B). Diversifikasi ini akan mendorong profitabilitas, mengingat kedua sektor tersebut menawarkan margin lebih tinggi.
Strategi bisnis tersebut diharapkan menopang penguatan margin laba bersih ERAA secara bertahap dari 1,6% pada 2024 menjadi 2,0% pada 2027. Hal ini diharapkan berdampak positif terhadap profitabilitas perseroan ke depan, sehingga Sucor Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham ERAA dengan target harga Rp 700.
Baca Juga
XPENG Gandeng Erajaya (ERAA) Resmikan Dealer Pertama di Indonesia, Apa Istimewanya?
Analis Sucor Sekuritas Christofer Kojongian dalam riset yang diterbitkan di Jakarta beberapa hari lalu mengatakan, sejak 2024, ERAA agresif memperluas portofolio di luar digital dengan menghadirkan merek F&B premium, seperti Bacha Coffee, Curry Up, Wetzel’s Pretzels, dan Chagee. Di sisi lain, lini active lifestyle turut diperkuat melalui MST Gold dan Wilson Tennis.
Estimasi Kinerja Keuangan ERAA
Sumber: Sucor Sekuritas
“Langkah berani juga ditunjukkan dengan masuknya ERAA ke pasar kendaraan listrik (EV) melalui kerja sama sebagai distributor tunggal Xpeng di Indonesia. Posisi ini dinilai strategis untuk menangkap peluang dari percepatan adopsi EV yang mendapat dukungan insentif pemerintah,” tulis riset tersebut.
Pengembangan bisnis otomotif dijalankan melalui anak usahanya PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) yang menjadi distributor tunggal Xpeng. Menurut dia, respon pasar positif ditunjukkan pemesanan lebih dari 800 unit, mendekati target penjualan 2025 sebanyak 1.100 unit. ERAA juga telah mengoperasikan enam showroom di Jakarta dan menyiapkan ekspansi lebih lanjut untuk memperkuat layanan purna jual sekaligus memperbesar pangsa pasar.
Baca Juga
Green Era Divestasi Puluhan Juta Saham BREN Bernilai Rp 221,5 Miliar, Bidik Masuk Indeks Global?
“Bisnis otomotif ini diperkirakan mampu menghasilkan gross margin hingga 18%, jauh di atas margin bisnis ponsel, sehingga dapat meningkatkan profil profitabilitas perseroan ke depan,” tulis riset tersebut.
Terkait kinerja keuangan, dia mengatakan, ERAA diproyeksikan mencatat kinerja lebih solid pada paruh kedua 2025, didukung peluncuran iPhone terbaru dan kontribusi tambahan dari lini bisnis baru. Laba bersih diperkirakan tumbuh 10% yoy menjadi Rp 1,1 triliun tahun ini atau tunjukkan pertumbuhan kuat di tengah kondisi ekonomi lesu.
Dia melanjutkan, proyeksi pertumbuhan laba ERAA diperkirakan kembali melesat 26% yoy mencapai Rp 1,4 triliun pada 2026, seiring ekspansi margin dari produk dengan margin lebih tinggi, pemulihan daya beli masyarakat, serta efisiensi biaya yang berkelanjutan.
Baca Juga
IHSG Bisa Lanjutkan Rebound, Tiga Saham Dipimpin BRMS Layak Dilirik Hari Ini
Didukung sejumlah faktor tersebut, Sucor Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham ERAA dengan target harga Rp 700. Target ini mencerminkan perkiraan PER tahun ini sebanyak 9,8 kali. Target harga tersebut juga didukung dominasi perseroan di bisnis ponsel dan gadget di Tanah Air, perbaikan rasio keuangan (ROE dan ROIC), serta pergeseran menuju bisnis dengan margin lebih tinggi.
Saat ini saham ERAA diperdagangkan pada valuasi 6,3x forward PER, jauh di bawah -1SD rata-rata 10 tahun pada 11,3x dan lebih rendah dibanding rata-rata sektor ritel sebesar 13,7x. Kondisi ini memberikan peluang menarik untuk mengakumulasi saham ERAA.

