Peluang Saham Bank Usai BI Rate Dipangkas, Simak Rekomendasi BBCA, BMRI, BBNI, dan BBTN Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI Rate sebannyak 25 bps menjadi 5% berpotensi menurunkan biaya dana (cost of fund/CoF) perbankan. Dampaknya makin besar, jika LPS ikut memangkas suku bunganya pada September 2025.
Hal ini diharapkan berdampak positif terhadap laju pergerakan saham perbankan dalam beberapa pekan ke depan. Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk tetap mempertahankan rekomendasi neutral sektor perbankan dengan rekomendasi beli diberikan kepada beberapa saham.
Baca Juga
Barito Pacific (BRPT) Teken Fasilitas Kredit US$ 252,75 Juta, Berikut Penggunaannya
Rekomendasi beli diberikan untuk saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan target harga Rp 11.900, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan target harga Rp 5.900, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dengan target harga Rp 4.800, dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dengan target harga Rp 1.400.
Rekomendasi hold diberikan untuk saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) dengan target harga Rp 2.900 dan PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) dengan target harga Rp 1.500. Adapun saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tidak diperingkat, karena BRI Danareksa Sekuritas satu grup dengan BBRI.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis mengatakan, BI rate telah dipangkas sebanyak empat kali sepanjang 2025. Meskipun suku bunga deposito masih relatif tinggi, langkah-langkah terbaru menunjukkan bahwa sikap pelonggaran BI bertujuan menciptakan ruang bagi penurunan biaya dana dalam sistem keuangan.
Baca Juga
Penurunan BI Rate, Emiten Punya Ruang Perbesar Capex dan Dorong Pertumbuhan
“Jika penuranan BI Rate dilanjutkan dengan pemangkasan suku bunga LPS pada akhir September 2025, maka hal itu akan mendukung penurunan CoF perbankan. Penurunan suku bunga LPS memberi keleluasaan bagi bank untuk menurunkan harga deposito tanpa khawatir terjadi arus keluar dana, sehingga NIM perbankan berpotensi tetap stabil,” tulis riset tersebut.
Selain pemangkasan suku bunga, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, target pemerintah untuk menargetkan pertumbuhan pendapatan sebanyak 9,8% tahun depan dengan target kenaikan penerimaan pajak hingga 13,5% akan menjadi sentimen negative terhadap pasar saham. “Kami menilai hal ini bisa menimbulkan risiko bagi sektor perbankan, antara lain penurunan permintaan kredit, kenaikan NPL, dan peningkatan CoF,” tulisnya.
Kenaikan pembayaran pajak, menurut dia, berarti arus dana lebih besar dari sektor swasta menuju rekening pemerintah di Bank Indonesia. Hal ini berpotensi mengurangi likuiditas di sistem perbankan secara sementara. Akibatnya, bank mungkin perlu menawarkan bunga deposito yang lebih tinggi untuk menarik dana, sehingga meningkatkan CoF.
Baca Juga
Barito Pacific (BRPT) Teken Fasilitas Kredit US$ 252,75 Juta, Berikut Penggunaannya
Apalagi rumah tangga menghadapi penurunan pendapatan yang dapat dibelanjakan (disposable income) yang bisa memengaruhi kemampuan bayar kredit. Selain itu, pelaku usaha baik UMKM maupun korporasi kemungkinan menunda ekspansi atau mengurangi kebutuhan modal kerja, sehingga menekan permintaan kredit.
Namun demikian, BRI Danareksa Sekuritas menilai, apabila pemerintah dapat menyalurkan penerimaan pajak secara cepat menjadi belanja, bank justru berpotensi mendapat manfaat dari aktivitas ekonomi yang lebih kuat serta kualitas kredit yang membaik.
Di tengah kondisi tersebut, BRI Danareksa Sekuritas menyarankan untuk tetap berhati-hati terhadap prospek kualitas aset perbankan. Meski demikian, sejumlah sentimen positif dalam jangka pendek masih bisa menjadi amunisi terhadap penguatan harga saham sektor ini, seperti likuiditas tampak telah menyentuh titik terendah, valuasi saham yang lebih murah, kejelasan lebih besar terkait program pemerintah, serta kepemilikan asing yang lebih rendah. Kondisi bisa menjadi sentimen positif bagi saham-saham yang sebelumnya underperform, seperti BBCA, BBRI, dan BMRI.

