Bitcoin Ethereum dan XRP Naik Kencang, Simak Analisa dan Target Harga Berikutnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pasar kripto memasuki pekan ini dengan momentum bullish yang kuat, didukung oleh kondisi makroekonomi yang mulai kondusif. Inflasi yang melandai dan sinyal pelemahan pada data tenaga kerja AS meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan melunak terhadap kebijakan moneternya.
Outlook suku bunga The Fed dalam beberapa bulan ke depan pun berfluktuasi secara harian mengikuti rilis data inflasi (CPI/PPI) dan pekerjaan, sehingga pasar menjadi sangat sensitif. Contohnya, probabilitas pemotongan suku bunga tiga kali tahun ini sempat diturunkan menjadi dua kali, yang menyebabkan harga aset berisiko (termasuk kripto) terkoreksi.
Namun ketika ekspektasi berubah kembali ke tiga kali pemotongan, harga-harga langsung pulih seiring sentimen likuiditas yang membaik. Perseteruan antara pemerintahan Trump dan The Fed soal perlu tidaknya pemangkasan suku bunga juga menambah volatilitas.
Menariknya, Wakil Ketua The Fed Michelle Bowman baru-baru ini secara terang-terangan menyatakan “tiga kali penurunan suku bunga diperlukan,” seraya menekankan lemahnya data ketenagakerjaan belakangan ini.
Baca Juga
Wow! Bitcoin Tiba-tiba Melonjak ke US$ 122.000 di Awal Pekan, Ada Apa?
Analyst Tokocrypto Fyqieh Fachrur mengatakan, pernyataan dovish ini langsung memicu reli kejutan di kripto dan Ethereum bahkan sempat menembus level US$ 4.300 setelah komentar tersebut. Dari sisi kebijakan, sentimen positif datang dari langkah Presiden AS Donald Trump yang pro kripto. Pekan lalu, Trump menandatangani perintah eksekutif yang mengarahkan regulator untuk memperluas akses investasi alternatif dalam program pensiun 401(k) (termasuk aset kripto). Kebijakan ini, bersama aturan lain yang melarang “de-banking" terhadap bisnis kripto legal, dipandang pasar sebagai sinyal kuat adopsi arus utama, meskipun ada catatan risiko bagi investor pensiun.
"Kombinasi harapan pemotongan suku bunga dan regulasi ramah kripto telah menempatkan pasar kripto dalam mode bullish. Bitcoin (BTC) sebagai acuan berhasil menembus kisaran US$ 119.000 akhir pekan kemarin, meski kenaikannya mingguan relatif moderat (~5,4%). Sebaliknya, Ethereum (ETH) melesat sekitar 25% dalam sepekan yang sama menegaskan dominasi altcoin di tengah sentimen ini. Reli altcoin juga ditopang oleh perkembangan regulasi, yakni Ripple (XRP), misalnya, mendapat kejelasan hukum setelah gugatan panjang dengan SEC berakhir," katanya kepada Investortrust, Senin (11/8/2025).
Baca Juga
Lagi Naik Kencang, Ethereum Berpeluang Tembus Rekor Tertinggi di Oktober
SEC resmi mengakhiri kasus yang menuduh Ripple menjual XRP sebagai sekuritas tanpa izin, mengakhiri salah satu sengketa terbesar di industri kripto. Dengan berakhirnya ketidakpastian hukum tersebut, iklim regulasi terhadap kripto menjadi lebih jelas dan kondusif. Ethereum, kripto terbesar kedua, menikmati kombinasi fundamental kuat dan dukungan makro. Dari sisi fundamental, daya tarik institusional Ethereum kian meningkat, arus masuk dana ke ETF Ethereum terus bertambah dan model pasokan ETH pasca-upgrade London (EIP-1559) bersifat deflasi. Artinya, suplai ETH cenderung menyusut seiring tingginya aktivitas jaringan, mendukung prospek kenaikan harga dalam jangka panjang.
Hal ini mencatat bahwa minat institusi terhadap ETH diperkuat oleh aliran ETF yang stabil serta berkurangnya pasokan, dan memperkirakan potensi penembusan di atas US$ 5.200 apabila level resistensi kunci berhasil dilewati. "Sentimen positif ini sejalan dengan regulasi yang makin ramah serta ekspektasi pelonggaran moneter The Fed, sehingga ETH terus menyerap aliran modal baru," kata Fyqieh.
Saat ini ETH berada di area krusial mendekati resistensi historis US$ 4.300- US$ 4.350 yang juga merupakan penutupan mingguan tertinggi sejak Desember 2021. Secara teknikal, bahwa support utama ada di US$ 3.905 dan resistensi kunci US$ 4.615 (ATH supply zone). Skenario, potensi konsolidasi di antara US$ 3.905 – US$ 4.615 sebelum mencoba breakout. Apabila breakout valid di atas US$ 4.615, target teknikal berikutnya berada di kisaran US$ 5.000 - US$ 5.200.
"MACD masih dalam fase bullish dengan histogram positif, RSI mendekati area overbought (70) namun belum menunjukkan divergensi negatif signifikan," katanya.
Baca Juga
XRP (Ripple) mencuri perhatian sebagai salah satu pemenang utama sentimen terbaru. Setelah hampir 5 tahun berproses, sengketa hukum antara Ripple Labs dan SEC mencapai akhir. Pada 8 Agustus 2025, SEC mengumumkan pencabutan gugatan terhadap Ripple (dengan denda US$ 125 juta tetap diberlakukan), menutup kasus profil tinggi yang lama membayangi XRP. Kemenangan hukum ini memberikan regulatory clarity yang sangat dibutuhkan, sehingga lembaga keuangan kini lebih percaya diri untuk mengadopsi XRP.
Bahkan, Fyqieh menuturkan, pengamat memperkirakan hasil positif ini dapat membuka jalan bagi produk seperti ETF spot XRP ke depannya, mengikuti jejak Bitcoin dan Ethereum. Secara kapitalisasi pasar, XRP kini telah naik menjadi kripto terbesar ketiga di dunia, hanya di bawah Bitcoin dan Ethereum pencapaian yang mencerminkan kembali kepercayaan investor pasca-putusan. XRP saat ini bergerak di kisaran US$ 3,26, setelah memantul dari support US$ 2.95 dan menuju resistensi US$ 3.45.
"Support utama US$ 2,95, resistensi kunci US$ 3,45, kemudian US$ 4.34. Selama bertahan di atas US$ 2.95, potensi untuk uji ulang US$ 3,45 terbuka. Breakout di atas US$ 3,45 membuka peluang reli ke US$ 4.34, dengan potensi lanjutan menuju US$ 5 pada sentimen positif kuat. Pergerakan harga kripto dalam beberapa minggu ke depan akan sangat ditentukan oleh data-data ekonomi utama dan keputusan bank sentral," kata Fyqieh.
Data di atas ekspektasi (inflasi lebih tinggi, pengangguran lebih rendah dari perkiraan) Jika laporan CPI atau PPI AS keluar lebih panas dari ekspektasi pasar, atau data tenaga kerja menunjukkan ekonomi tetap terlalu kuat, maka ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed kemungkinan menurun. Kondisi ini cenderung negatif bagi aset kripto karena imbal hasil obligasi naik, likuiditas pasar mengetat, dan investor bisa beralih menjauhi aset berisiko. Singkatnya, inflasi lebih tinggi dari ekspektasi akan mengaburkan prospek penurunan suku bunga, sehingga harga kripto berpotensi terkoreksi kembali.
Sedangkan, lanjut Fyqieh, data di bawah ekspektasi (inflasi lebih rendah, indikator ekonomi melemah). Sebaliknya, jika inflasi (CPI/PPI) ternyata lebih jinak dari perkiraan, atau data ekonomi (pertumbuhan, penjualan ritel, tenaga kerja) menunjukkan pelemahan melebihi ekspektasi, pasar akan semakin yakin bahwa The Fed punya ruang untuk memotong suku bunga lebih cepat atau lebih agresif. Likuiditas yang lebih longgar dan biaya modal turun biasanya menjadi angin segar bagi kripto.
"Dalam skenario ini, sentimen risk on akan menguat, lalu Bitcoin, Ethereum, dan altcoin besar berpeluang melanjutkan tren naiknya. Investor institusional pun cenderung lebih berani menambah eksposur ke aset kripto jika prospek pelonggaran moneter kian jelas. Dengan kata lain, inflasi yang terkendali (atau data ekonomi lemah) akan memperkuat reli kripto yang sudah berjalan," ujarnya.

