Miliki Potensi yang Sangat Besar, Begini Upaya Hartadinata Abadi (HRTA) Sukseskan 'Bullion Bank'
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) melihat bahwa bank emas alias bullion bank memiliki potensi yang sangat besar di Indonesia.
Hal itu diungkapkan Direktur Utama PT Hartadinata Abadi Tbk Sandra Sunanto berdasarkan hasil riset tim investor relation HRTA dengan menggunakan data dari World Gold Council, Badan Pusat Statistik, dan sebagainya.
"Di upstream itu kita punya value sekitar Rp 126 triliun. Di mainstream sendiri yaitu dikuasai oleh para manufaktur, itu ada value senilai Rp 235,6 triliun, dan di downstream sendiri di mana kita akan berhadapan dengan permintaan di market itu punya Rp 114,5 triliun. Jadi ini luar biasa sekali nih ekosistem bulion bank di Indonesia," ujar Sandra dalam acara Investortrust Powertalk: Financial Series bertajuk "Keren, Muda, dan Cuan Bersama Bullion Bank" di Hotel Aryaduta Jakarta, Kamis (31/7/2025).
Diketahui, bullion bank adalah lembaga keuangan yang mengelola serta memperdagangkan emas sebagai salah satu bentuk aset finansial. Selain itu, bank ini juga berfungsi sebagai perantara dalam transaksi emas antara pemerintah, bank sentral, investor, dan sektor industri.
Sandra menjelaskan, HRTA berada dalam satu ekosistem yang sama, yakni ingin mengemaskan Indonesia. Menurut Sandra, HRTA ikut serta aktif membuat bullion bank ini akan menjadi berhasil di Tanah Air.
Lebih lanjut, Sandra menyebut, gold bullion service (layanan emas batangan) akan meningkatkan GDP sekitar 0,15%, lalu konsumsi 0,28%, dan investasi sendiri 0,32%. Dampak ekonomi ini diutarakan Sandra berdasarkan data dari Kementerian Perekonomian.
"Jadi kita akan coba mengoptimalisasikan bagaimana gold supply chain nanti bisa increase GDP, dan juga yang terpenting menurut kami adalah bisa membuat lapangan kerja. Itu yang kita lihat, apa sih sebetulnya economic impact dari bullion bank sendiri di Indonesia," ucap Sandra.
Ia menambahkan, posisi HRTA ada di tiga lapangan yang dikuasai, yakni di upstream ada optical dan mining, dari seluruh peredaran emas yang ada di Indonesia. Kemudian, HRTA juga ada di mainstream dan di downstream.
"Apa yang akan dilakukan harta sebetulnya ke depan?. Saat ini refinery kami sedang mengajukan sertifikasi LBMA, sehingga jika kami memperoleh sertifikasi LBMA, produksi EMASKU atau produk EMASKU sendiri akan diterima dengan skandar yang terskandalisasi oleh LBMA di seluruh dunia. Sehingga bapak ibu kalau pergi ke luar negeri bawa EMASKU jual, harganya diterimanya LMS spot itu yang kita akan peroleh mudah-mudahan di akhir Desember ini. Jadi kita akan menjadi salah satu pionir refinery di Indonesia yang akan memiliki sertifikasi LBMA," jelas Sandra.

