Didukung Pemerintah Pro-Pertumbuhan, Schroders Optimistis Saham Tetap Prospektif
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Schroders Indonesia optimistis terhadap ekuitas (saham) dalam jangka panjang dengan prospek pertumbuhan tetap terjaga. Apalagi ekuitas Indonesia masih diperdagangkan dengan valuasi yang menarik sekitar 11x PE 2025, dibandingkan rata-rata historis di 15x.
“Kami berpendapat bahwa program-program di bawah pemerintahan baru akan berdampak positif bagi pasar ekuitas karena sebagian besar bersifat pro-pertumbuhan. Meskipun demikian, eksekusinya masih harus dilihat dan perlu dipantau,” jelas Investment Specialist Schroders Indonesia Rizky Hidayat, Jumat (18/7/2025).
Baca Juga
5 Emiten Siap IPO, BEI Catat Antrean Jumbo di Tengah Lonjakan Dana Pasar Modal
Dia menambahkan, volatilitas pasar yang tinggi saat ini didorong oleh tarif liberation day Trump, serta kekhawatiran tentang permintaan domestik dan eksekusi kebijakan Indonesia.
“Kekhawatiran akan ekonomi yang lemah di lapangan juga menjadi risiko bagi pertumbuhan, sementara investor memantau pendapatan perusahaan secara ketat. Pemilihan saham menjadi kunci bagi kami saat ini,” tegasnya.
Sebelumnya, pada kuartal II-2025, IHSG terapresiasi 6,4% MoM dengan arus keluar asing sebesar Rp 23,7 triliun. Indeks LQ45 mencatat imbal hasil MoM sebesar 5,2% sementara IDX80 di 7,4%.
Baca Juga
IHSG Cetak Rekor Kenaikan Beruntun hingga Sentuh Level Tertinggi Tahun Ini
Kuartal kedua 2025 dibuka dengan pemberlakuan tarif “Liberation Day” Donald Trump yang mengejutkan dunia dan menjatuhkan pasar ekuitas global. “Meskipun ekuitas Indonesia tampak lebih tangguh dengan penurunan terbatas, namun pulih dengan baik bersama pasar lainnya pasca libur Lebaran,” ucap Rizky.
Meski asing masih membukukan arus keluar yang cukup besar pada April namun pasar tetap menguat. Hal ini didukung investor institusi lokal saat para investor melakukan aksi beli saat harga turun (bottom fishing).
Sementara, dana pensiun milik negara yakni BPJS-TK diumumkan akan meningkatkan porsi saham dalam AUM, dari sekitar 6% menjadi 20% dalam 2-3 tahun ke depan. “Sentimen tersebut berhasil mengangkat sentimen investor domestik,” imbuh Rizky.
Pada kuartal kedua, pasar global dikejutkan oleh volatilitas yang tinggi mulai dari tarif AS yang sangat tinggi hingga ketegangan antara Israel dan Iran. The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di 4,25%-4,50% dan menurunkan proyeksi pertumbuhan sambil menaikkan perkiraan inflasi hingga akhir tahun.
Baca Juga
Negosiasi Alot, Trump Disebut Tuntut Tarif Minimum hingga 20% terhadap Uni Eropa
Selanjutnya, periode Mei mendorong penguatan ekuitas Indonesia karena investor asing bergegas masuk, tidak ingin melewatkan reli. Sementara itu, sentimen tarif AS tampak mereda. Rupiah menguat dan Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan sebesar 25 bps selama bulan tersebut.
Reli harga emas yang didorong ketidakpastian global dan kemungkinan de-dolarisasi juga mendorong penguatan saham-saham proksi emas. Kemudian, perang pecah antara Israel dan Iran dengan keterlibatan AS menjelang akhir kuartal II-2025, meski ketegangan dapat diredakan. Sedangkan, harga minyak tetap terkendali.

