Simak Prospek Saham Emiten Logam memasuki Semester II-2025, MBMA Jadi Pilihan Teratas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham emiten sektor pertambangan logam masih menyimpan potensi penguatan pesat, meskipun harga jual ore nikel turun dalam sebulan terakhir. Sedangkan faktor penopang pada semester II tahun ini datang dari suplai, permintaan global, dan kebijakan Kementerian ESDM.
Di tengah potensi tersebut, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli tujuh saham emiten logam berikut, yaitu saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) direkomendasikan beli dengan target harga Rp 490. Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) direkomendasikan beli dengan target harga Rp 3.300 dan saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) direkomendasikan beli dengan target harga Rp 480.
Baca Juga
Margin Diprediksi Pulih, Begini Target Harga Saham Merdeka Battery (MBMA)
BRI Danareksa Sekuritas juga merekomendasikan beli saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dengan target harga Rp 1.500, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan target harga Rp 3.000, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dengan target harga Rp 2.400, dan PT Timah Tbk (TINS) dengan target harga Rp 1.300.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Naura Reyhan Muchlis dan Timothy Wijaya dalam riset yang diterbitkan hari ini mengatakan, usai mencatatkan tren kenaikan sepanjang 2024 hingga paruh pertama 2025, harga premium ore nikel akhirnya berbalik arah pada Juli 2025. Koreksi ini sejalan dengan penurunan harga acuan High-Grade Primary Nickel (HPM) dan pelemahan harga nikel di bursa London Metal Exchange (LME).
Data menunjukkan harga ore nikel telah naik sebesar +19% year-to-date (YTD), sementara harga Nickel Pig Iron (NPI) justru turun -2%, memberikan tekanan margin pada perusahaan tambang non-terintegrasi yang menghadapi stok menumpuk di tengah margin yang tipis hingga negatif.
Baca Juga
Di Tengah ARA Saham CDIA, Tiga Saham Emiten Prajogo Dipimpin TPIA justru Anjlok
Sepanjang 2024 hingga Juni 2025, premium ore nikel sempat menyentuh puncaknya di US$ 26,8/wmt, namun koreksi mulai terjadi pada Juli 2025. Penurunan ini terjadi seiring meredanya permintaan dari smelter dan stagnannya harga NPI yang mendekati titik terendah tahun ini, yakni US$ 11.000/ton.
BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa situasi tersebut menyebabkan margin tertekan, terutama pada smelter non-terintegrasi yang tidak memiliki akses langsung ke sumber bahan baku dan mendorong aksi wait-and-see para pelaku pasar untuk melakukan restocking.
Lalu, bagaimana prediksi harga ore nikel sampai akhir tahun? Analis memperkirakan kecenderungan melandai lebih lanjut dalam jangka pendek. Hal ini dipicu atas harga NPI yang terus turun, seiring lemahnya permintaan restocking stainless steel (SS). Prospek penambahan pasokan, menyusul rencana Kementerian ESDM untuk merilis tambahan RKAB pada Juli–Agustus 2025 bersamaan dengan perbaikan cuaca dan potensi kenaikan kuota.
Baca Juga
Menuju Ekonomi 5,8%, Industri Didorong Naik Kelas Lewat Hilirisasi dan Teknologi Tinggi
Meski demikian, BRI Danareksa Sekuritas mengungkap bahwa, terdapat juga potensi kenaikan harga kembali. Di antaranya, musim restocking tradisional di China yang dikenal sebagai “Golden September, Silver October.” Pertimbangan kebijakan RKAB kembali ke skema tahunan oleh Kementerian ESDM yang dapat meningkatkan ketidakpastian pasokan domestik ke depan di tengah pasar yang sudah ketat.
Meskipun tren harga mulai terkoreksi, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi Neutral untuk sektor pertambangan logam, dengan proyeksi masih adanya volatilitas di semester II 2025. Dalam urutan preferensi, ore tetap menjadi produk yang paling menarik dibandingkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), NPI, dan matte. Hal ini berdasarkan margin profitabilitas yang masih relatif solid untuk ore, walau tren harga mulai menurun.

