Prospek Kinerja dan Target Saham Sido Muncul (SIDO) Dipangkas, Ini Pemicunya
JAKARTA, investortrust.id – Target harga saham dan kinerja keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) direvisi turun, seiring berlanjutnya pelemahan pendapatan dari segmen herbal, produk TolakAngin, yang selama ini sebagai tulang punggung kinerja. Meski demikian saham SIDO tetap direkomendasikan beli didukung pangsa pasar kuat dan neraca keuangan tanpa utang.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset yang dierbitkan di Jakarta, Rabu (25/6/2025), merevisi turun target laba bersih tahun ini dari Rp 1,25 triliun menjadi Rp 1,08 triliun. Dengan revisi tersebut, proyeksi laba perseroan tahun ini akan turun dari torehan tahun 2024. Penjualan juga direvisi turun dari target semula Rp 4,30 triliun menjadi Rp 4,03 triliun.
Baca Juga
Usai Pengumuman Akuisisi 77,19%, Saham Master Print (PTMR) Lanjut ARA
Analis BRI Danareksa Sekuritas Wilastita Muthia Sofi dan Ismail Fakhri Suweleh mengatakan, revisi turun tersebut mengindikasikan potensi penurunan pendapatan dari segmen herbal. Indiksasi tersebut dilihat dari penurunan pendapatan dari segmen herbal sebanyak 42,1% dari Rp 627 miliar menjadi Rp 363 miliar pada kuartal I-2025. Begitu juga dengan segmen farmasi juga menunjukkan penurunan.
Selain penurunan nilai penjualan, margin kotor dari penjualan produk herbal tersebut mengalami penurunan dari menjadi 61,2% pada kuartal I-2025, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya 70,8%. Sebaliknya kenaikan masih melanda segmen food & baverage (F&B).
Walau menghadapi penurunan, BR Danareksa Sekuritas menyebutkan, kekuatan merek TolakAngin dan stabilitas margin sebagai keunggulan kompetitif utama SIDO untuk mendukung harga sahamnya ke depan. Hal ini memperkuat keyakinan BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham SIDO, meski target harga sahamnya dipangkas dari Rp 640 menjadi Rp 550 per saham.
Baca Juga
Meski Daya Beli Turun, Prospek Keuangan dan Saham Cimory (CMRY) Diprediksi Tak Goyah
BRI Danareksa Sekuritas menambahkan bahwa produk TolakAngin yang unik dengan pangsa pasar stabil di atas 70% di minuman herbal siap konsumsi (RTC). Begitu juga dari produksi mengandalkan produk ini mengandalkan bahan baku lokal, sehingga memiliki perlindungan alami terhadap fluktuasi nilai tukar. SIDO juga didukung neraca keuangan bebas utang.
“Kenaikan rata-rata harga jual (ASP) dan bersamaan dengan pertumbuhan volume penjualan segmen herbal, khususnya produk Tolak Angin, melalui perluasan distribusi ke wilayah Indonesia Timur akan menjadi kunci untuk mendorong margin dan Return on Equity (ROE) SIDO ke depan,” terangnya.

