Jelang Rilis BI Rate dan Data Ekonomi AS, Rupiah Rabu (18/6) Pagi Tertekan!
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah tertekan imbas sejalan dengan kenaikan indeks dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (18/6/2025). Data Bloomberg per 09.15 WIB, kurs rupiah melemah 24 poin (0,15%) ke level Rp 16.314 per dolar AS.
Pelemahan tersebut dipengaruhi aksi tunggu pasar terhadap keputusan arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI) dalam rapat dewan gubernur (RDG) periode 17-18 Juni 2025. Pada RDG periode Mei lalu, BI telah memangkas suku bunga acuan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50%. Selain itu, dewan gubernur menurunkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bos menjadi 4,75%. Kemudian suku bunga Lending Facility juga turun 25 bps menjadi 6,25%.
Baca Juga
IHSG Dibuka Mixed Cenderung Melemah, Sebaliknya Saham ASPI, VRNA, dan ENRG Terbang
Dari sentimen eksternal, yield US Treasury 10 Tahun turun 5,74 bps menjadi 4,39% (-18 bps ytd), karena investor bersiap menghadapi keputusan kebijakan moneter terbaru Federal Reserve. Sementara bank sentral secara luas diharapkan untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil, perhatian akan terpusat pada arahan ke depannya di tengah ketidakpastian tarif yang terus berlanjut dan meningkatnya ketegangan geopolitik.
Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro mengatakan, pelaku pasar juga akan mencermati data perumahan AS baru dan klaim pengangguran mingguan, yang akan dirilis menjelang libur pasar pada hari Kamis.
Sedangkan sentimen risiko di pasar global terhambat oleh Presiden Trump yang mengisyaratkan eskalasi terhadap Israel dengan meremehkan kesepakatan gencatan senjata dan memperingatkan penduduk Teheran untuk mengungsi.
Baca Juga
Sejumlah Emiten Ini Gelar Cum Dividen Hari Ini, Nilai Dividen Ada Rp 728 per Saham
"Sementara itu, penjualan ritel mengalami kontraksi lebih dari yang diharapkan pada bulan Mei yang menunjukkan bahwa tarif mungkin berdampak semakin besar pada perekonomian, karena laporan lain menunjukkan bahwa harga impor bersih dari pungutan tidak berubah," tulis Andry dalam laporannya, Rabu (18/6/2025).
Terbaru, penjualan ritel AS di AS turun 0,9% per bulan pada Mei, menyusul penurunan 0,1% pada April dan lebih buruk dari perkiraan penurunan 0,7%. Ini adalah penurunan terbesar dalam empat bulan, karena konsumen mengurangi pembelian mereka menjelang tarif yang diharapkan.

