Bitcoin Balik Arah ke US$ 82.000-an, Naik 7% dalam Sehari
JAKARTA, investortrust.id - Bitcoin (BTC) berhasil rebound tipis setelah sempat anjlok lebih dari 15% selama minggu lalu hingga ditutup pada kisaran terendah US$ 76.800. Penurunan itu terjadi setelah investor kecewa dengan kurangnya investasi Bitcoin federal langsung dalam perintah eksekutif Presiden AS Donald Trump pada 7 Maret yang menguraikan rencana untuk membuat cadangan Bitcoin menggunakan mata uang kripto yang disita dalam kasus pidana pemerintah.
Menilik data Coinmarketcap, Rabu (12/3/2025) pukul 07.30 WIB, mayoritas aset kripto mampu beralih posisi dari zona merah ke zona hijau. Bitcoin misalnya koin nomor wahid itu bisa menguat 7,15% dalam 24 jam terakhir ke US$ 82.825. Senada Ethereum (ETH), XRP, dan BNB juga terapresiasi masing-masing 4,48%, 9,60%, dan 4,81%.
Kapitalisasi pasar kripto global kini menjadi US$ 2,68 triliun, meningkat 4,96% dari hari terakhir. Total volume pasar kripto selama 24 jam terakhir adalah US$ 138,16 miliar yang berarti penurunan 2,43%. Dominasi Bitcoin saat ini adalah 61,29%, meningkat 0,47%.
Baca Juga
Bitcoin Berpotensi Raup Keuntungan dari Dorongan Dominasi Stablecoin AS
Analis Reku Fahmi Almuttaqin mengatakan, koreksi harga Bitcoin di harga US$ 80.000 yang terjadi saat ini mungkin menjadi peluang akumulasi bagi investor institusi, khususnya jika Bitcoin dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi.
“Meskipun demikian, altcoin, terutama yang terkait proyek AI atau teknologi, mungkin akan lebih rentan terkoreksi lebih dalam akibat valuasi yang terlalu optimis dan korelasinya dengan sentimen saham-saham AS di sektor teknologi seperti Nvidia. Ke depan, laporan inflasi dan perkembangan kebijakan fiskal AS akan menjadi katalis utama,” ujarnya dalam riset, Rabu (12/3/2025).
Baca Juga
Pasar memperkirakan inflasi CPI AS akan mengalami kenaikan sekitar 0,23%, yang mana lebih rendah dibandingkan inflasi Januari yang naik 0,5%. Namun, kenaikan pada angka tersebut masih akan membuat inflasi tahunan AS berada di angka 3%, masih relatif cukup jauh dari target The Fed di 2%.
“Dengan hasil pertemuan KTT Kripto Gedung Putih yang belum banyak memberikan katalis positif bagi pasar kripto, kembali ditahannya suku bunga The Fed pada pertemuan 19 Maret pekan depan berpotensi membuat pasar kripto berada pada kondisi yang masih minim katalis positif. Kondisi tersebut dapat membuat tekanan yang ada di pasar saat ini berpotensi berlanjut," imbuh Fahmi.
Meskipun demikian, potensi pergeseran sentimen investor tetap terbuka di mana Bitcoin dapat dipandang sebagai inflation hedge. Langkah administrasi Trump untuk mensahkan Strategic Bitcoin Reserve AS dapat semakin meningkatkan legitimasi Bitcoin di kalangan investor tradisional dan negara-negara lain yang sedang mengeksplorasi langkah serupa.

