Simak Tiga Katalis Penggerak IHSG Pekan Ini, Berikut Daftarnya
JAKARTA, investortrust.id – Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) akan dipengaruhi tiga katalis utama pekan ini. Ketiganya adalah sentimen musim dividen, keberlanjutan program Donald Trump, dan inflasi AS periode Januari 2025.
Prediksi pergerakan pasar hingga akhir pekan 14 Februari 2025 tersebut dipaparkan oleh Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Dimas Krisna Ramadhani.
Dari sentimen persiapan bagi dividen, Dimas menyebutkan, pada kondisi normal, biasanya investor asing mulai mencatatkan inflow di pasar saham sejak dari pertengahan Februari sebagai persiapan momentum pembagian dividen saham-saham bank besar pada Maret-April.
Baca Juga
Meski IHSG Ditutup Anjlok 1,40%, Empat Saham Ini Tetap Perkasa hingga ARA
“Jika melihat data foreign flow sampai pekan lalu dan belum terjadi inflow ke pasar saham, maka ada kemungkinan investor asing tidak mencatatkan inflow sebelum momentum dividen Maret-April mendatang,” ujar Dimas.
Berdasarkan data BEI, pemodal asing telah mencatatkan penjualan bersih (net sell) saham di seluruh pasar senilai Rp 8,43 triliun sepanjang 2025 berjalan atau year to date (ytd). Sedangkan net sell moth to date (MTD) telah mencapai Rp 4,72 triliun dengan penyumbang terbesar BMRI Rp 2,57 triliun.
Meski demikian, dia mengatakan, masih terbuka peluang investor asing mencatatkan inflow. Sebab secara historikal setiap tahun, investor asing menjadikan momentum pembagian dividen untuk mencatatkan inflow ke IHSG sebelumnya.
Kemudian secara bingkai waktu (time frame), menurut Dimas, biasanya investor asing melakukan siklus akumulasi ataupun distribusi dalam kurun 3-4 bulan. Jika melihat aktivitas investor asing yang sudah melakukan distribusi (inflow) signifikan di IHSG sejak September 2024 maka tidak menutup kemungkinan investor asing mulai menjalankan siklus akumulasi mulai bulan ini setelah menjalankan siklus distribusi sejak September silam.
Baca Juga
Asing Net Sell Rp 921,06 Miliar, Berikut Daftar Saham yang Diobral
“Kesimpulannya, jika kita analisa menggunakan probabilitas, probabilitas investor asing mulai mencatatkan inflow ke IHSG sebesar 50-50. Hal ini juga sekaligus menggambarkan probabilitas pergerakan IHSG kedepannya. Secara ilmu foreign flow, apabila investor asing memutuskan untuk masuk lagi ke pasar saham, IHSG berpotensi mengalami kenaikan, begitupun sebaliknya,” papar Dimas.
Katalis kedua adalah sentimen keberlanjutan program Donald Trump. Sejak Donald Trump dilantik menjadi presiden AS yang kedua kalinya, banyak statement maupun kebijakan yang dikeluarkan berdampak signifikan terhadap pergerakan market global.
Terakhir, ia merencanakan untuk menunda kenaikan tarif impor barang-barang dari Meksiko dan Kanada selama 1 bulan, namun tetap menjalankan kebijakan tarif impor ini terhadap China. Hal ini memicu China untuk melakukan peningkatan tarif impor barang-barang dari AS setelahnya.
Baca Juga
Permata Institute Prediksi Pertumbuhan Kredit Perbankan Capai 10,78% di 2025
Pada Jumat lalu, menurut laporan dari kantor kepresidenan AS, dinyatakan bahwa Donald Trump akan segera mengumumkan kebijakan ‘reciprocal tariff’ pada pekan ini. Apabila sesuai dengan laporan tersebut maka besar kemungkinan market mengalami volatilitas yang besar, baik menjelang, saat, ataupun sesudah pengumuman tersebut.
Ketiga, sentimen inflasi AS periode Januari 2025. Pada Rabu data inflasi AS untuk bulan Januari akan rilis dan berdasarkan konsensus, AS akan mencatatkan inflasi tahunan sebesar 2,9% atau sama seperti bulan sebelumnya.
“Jika kita lihat tren dalam empat bulan terakhir inflasi AS konsisten mengalami kenaikan dan menjauhi target inflasi dari The Fed yaitu sebesar 2%. Apabila inflasi terus mengalami kenaikan maka membuka peluang bagi The Fed untuk justru meningkatkan suku bunga acuannya dan hal ini tidak sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar dimana sebelumnya pelaku pasar berekspektasi suku bunga The Fed turun di sepanjang 2025 ini,” tegas Dimas.

