Bisnis Infrastruktur Telko Terdorong Fixed Broadband, Bagaimana Target Saham TOWR, MTEL, dan TBIG?
JAKARTA, investortrust.id – BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight saham emiten menara hingga infrastruktur telekomunikasi. Sedangkan saham pilihan teratas dipegang PT Sarana Menara Infrastruktur Tbk (TOWR).
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset yang diterbitkan di Jakarta pekan lalu merekomendasikan beli saham TOWR dengan target harga Rp 1.400. Rekomendasi beli juga diberikan pada saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dengan target harga Rp 1.000 dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dengan target harga Rp 3.200.
Prospek saham Infra Telko
BRI Danareksa Sekuritas
Analis BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta dan Niko Margaronis mengatakan, terdapat persediaan signifikan homepass broadband tetap yang belum termanfaatkan, meskipun penetrasi pasar broadband masih rendah di Indonesia. Hal ini menandakan adanya fragmentasi rantai pasok besar di sektor bisnis ini.
Baca Juga
Pasca Diakusisi Grup Djarum, Remala Abadi (DATA) Targetkan 500 Ribu Jaringan Internet
Perusahaan internet service provider (ISP) kemungkinan akan menciptakan disrupsi pasar internet fixed broadband dengan menawarkan harga langganan lebih murah berkisar Rp 100-200 ribu per bulan untuk meraup pangsa pasar lebih besar. ISP kecil memiliki struktur biaya lebih rendah, sehingga tentu bisa menawarkan paket internet lebih terjangkau.
Peningkatan penetrasi pasar internet fixed broadband akan berimbas positif terhadap emiten infrastruktur telekomunikasi, seperti TOWR, MTEL, dan TBIG. Sebab emiten-emiten tersebut akan didukung permintaan pasar ke depan.
BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan penetrasi pasar fixed broadband nasional baru mncapai 18-23% atau setara dengan 13-14 juta sambungan. Dengan langkah ISP kecil, permintaan fixed broadband berbiaya rendah diprediksi bertumbuh. Hal ini akan berimbas terhadap peningkatan permintaan jasa infrastruktur telekomunikasi.
Baca Juga
MTEL dan INTP: Kisah Dua Saham Jawara yang Tersisih dari Konstituen LQ45
Berdasarakn data jumlah rumah tangga Indonesia mencapai 73 juta dan total sambungan PLN rumah tangga tahun 2023 mencapai 82 juta. Maka dengan sambungan fixed broadband berkisar 15 juta, makan masih terbuka pasar yang sangat besar ke depan.
Tak hanya itu, jumlah penggan fixed broadband nasional juga masih jauh di bawah jumlah homepass yang dimiliki sejumlah ISP di Indonesia. Di antaranya, Telkom TIF diperkirakan memiliki 20-25 homepass, Link Net menguasai sektiar 4 juta homepass, TOWR memiliki 1,5 juta homepass. Sisanya dimiliki perusahaan ISP kecil, sepreti ICON+, WIFI, dan Remala Abadi (DATA).
Grafik Saham MTEL, TBIG, dan TOWR

