IHSG Tergerus 2,65%, OJK: Pasar Modal Menunjukkan Pertumbuhan Cukup Baik
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) tergerus 2,65% pada penutupan tahun 2024, dari 7.272,8 pada 29 Desember 2023 menjadi 7.079,91 pada 30 Desember 2024. Meski demikian, pasar modal Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menyebutkan, berbagai indikator kinerja pasar modal tahun lalu menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik. Hal ini bahkan diklaim selaras dengan kinerja pertumbuhan ekonomi nasional.
“Walau turun 2,65% dari tahun lalu, namun di atas level terendah 6.726,92 pada 19 Juni 2024. Rentang besar sebanyak 1.200 poin, antara tingkat tertinggi dan terendah indeks tahun lalu merefleksikan volatilitas yang luar biasa pasar modal global, sebagai dampak perekonomian dunia yang mengalami tantangan berat,” jelas Mahendra pada Pembukaan Perdagangan BEI Tahun 2025, Kamis (2/1).
Sementara itu, nilai kapitalisasi pasar modal Indonesia tercatat hampir mencapai Rp 12.300 triliun, tepatnya Rp 12.264 triliun atau tumbuh 6%. “Bila dibandingkan ekonomi nasional, mencapai 56% dari PDB (pertumbuhan domestik bruto),” imbuhnya.
Dari aktivitas penghimpunan dana di pasar modal, telah tercatat 199 penawaran umum dengan total nilai penghimpunan dana Rp 259,24 triliun. Jumlah ini turut meliputi 43 emiten baru dengan nilai IPO Rp 16,68 triliun dan PUPS senilai Rp 41,77 triliun.
“Kami mengapresiasi setinggi-tingginya kepada BEI, KPEI, KSEI, anggota bursa, manajer investasi, dan lembaga penunjang pasar modal, serta seluruh pihak yang turut berperan dalam menjaga stabilitas dan turut mendorong pertumbuhan pasar modal Indonesia,” sambung Mahendra.
Sebelumnya Direktur Utama BEI Iman Rachman juga mengakui bahwa tahun 2024 telah menjadi tahun yang penuh tantangan, sekaligus peluang dari pasar modal Indonesia.
“Sepanjang tahun, IHSG mengalami volatilitas signifikan,” ujar Iman pada penutupan perdagangan tahun lalu.
Namun Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menegaskan, permohonan pernyataan pendaftaran saham secara umum tidak mengalami penurunan sepanjang 2024. Hanya saja, beberapa perusahaan mengalami pembatalan pencatatan saham.
Baca Juga
Beri Angin Segar, IHSG Naik ke Posisi 7.079 di Penutupan Perdagangan 2024
“Yakni berupa penundaan dari calon perusahaan tercatat, maupun penolakan dari bursa sehubungan dengan concern kami dari segi kondisi keuangan, operasional dan aspek hukum, termasuk going concern perusahaan,” jelas Nyoman.
Meski demikian, aktivitas penerbitan obligasi dan sukuk, serta instrumen efek lainnya di bursa mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan perusahaan tetap memanfaatkan pasar modal dalam bentuk instrumen pendanaan perusahaan, yang berbeda dan disesuaikan kebutuhan perusahaan.
Pada 2024, BEI membukukan pencapaian penerbitan efek sejumlah 680 efek atau 200% dari yang telah ditargetkan, yakni 340 penerbitan efek. Pencapaian tersebut mengalami peningkatan 176% dari pencapaian jumlah penerbitan efek pada 2023.
Baca Juga

